Inflasi Pangkalpinang Memberi Pengaruh Besar

Pangkalpinang – Darwis Sitorus Kepala BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengharapkan laju inflasi dapat dikendalikan. Kendati di Tanjungpandan terjadi deflasi, namun inflasi tinggi di Pangkalpinang berdampak terhadap meningkatnya laju inflasi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. September lalu, di Tanjungpandan terjadi deflasi 0,68 persen. Namun Pangkalpinang mengalami inflasi 0,64 persen.

“Deflasi Tanjungpandan 0,68 persen dengan Indek Harga Konsumen (IHK) sebesar 131,70. Bulan sebelumnya yakni Agustus juga mengalami deflasi sebesar 0,58 persen dengan IHK 132,60,” jelas Darwis saat jumpa pers di Kantor BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jalan Bangka, Komplek Perkantoran Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Senin (3/10/2016).

Kendati di Tanjungpandan mengalami daflasi, jelasnya, namun di Pangkalpinang mengalami inflasi sebesar 0,64 persen dengan IHK sebesar 130,56. Inflasi lebih tinggi terjadi di bulan Agustus hingga menembus angka 0,93 persen dengan IHK 129,73. Inflasi ini terjadi dikarenakan adanya peningkatan harga yang ditunjukan naiknya indeks di seluruh komponen pengeluaran.

Kenaikan indeks kelompok bahan makanan sebesar 0,61 persen. Lebih jauh ia merinci, sedangkan untuk kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik sebesar 1,37 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik sebesar 0,29 persen. Begitu juga dengan kelompok sandang naik sebesar 0,37 persen serta kelompok kesehatan 0,28 persen.

Sementara untuk kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga mengalami kenaikan indeks sebesar 0,15 persen. Menurut Darwis, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan memberi kontribusi kenaikan sebesar 0,73 persen. Tingkat inflasi tahun kalender September 2016 yakni 5,49 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun sebesar 5,82 persen.

“Sumbangan masing-masing komponen terhadap inflasi bulan ini adalah komponen yang harganya diatur pemerintah 0,15 persen dan komponen inti sebesar 0,52 persen. Sedangkan komponen bergejolak memberi kontribusi terhadap inflasi sebesar 0,03 persen. September lalu, tingkat inflasi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 0,17 persen dengan IHK 130,96 persen,” paparnya.

Hasil pantauan harga selama September di 82 kota, IHK di Indonesia menunjukan 58 kota mengalami inflasi, sementara 24 kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi menembus angka 1,85 persen terjadi di Kota Sibolga dengan IHK 129,12. Sedangkan deflasi tertinggi di Kota Pontianak yang berada pada angka 1,06 persen dengan IHK 133,94.

Membahas mengenai deflasi di Tanjungpandan, Darwis menjelaskan, deflasi dikarenakan adanya penurunan harga yang ditunjukan turunnya indeks empat kelompok pengeluaran. Sejumlah kelompok pengeluaran itu di antaranya, kelompok bahan makanan turun sebesar 1,39 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0.06 persen, kelompok sandang sebesar 2,74 persen.

Sedangkan untuk kelompok yang mengalami kenaikan indeks terjadi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,21 persen, kelompok kesehatan 0,36 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,10 persen. Tingkat inflasi tahun kelender September 2016 sebesar 2,94 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun 1,53 persen.

“Komponen inti pada September lalu memberikan andil deflasi sebesar 0,14 persen. Sedangkan komponen yang harganya diatur pemerintah mengalami deflasi sebesar 0,27 persen. Kondisi serupa juga terjadi untuk komponen bergejolak yang mengalami deflasi 0,27 persen,” ungkapnya. 

Sumber: 
Diskominfo Babel
Penulis: 
Rizky Fitrajaya/Huzari
Fotografer: 
Rizky Fitrajaya
Editor: 
Huzari | Adi Tri Saputra