Jamaah Haji Peduli dan Ramah Lingkungan

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan, dan jin, apalagi sesama manusia. Sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Anbiya ayat 107 yang artinya: “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

Islam melarang manusia berlaku semena-mena terhadap makhluk Allah. Demikian tinggi, indah, dan terperinci aturan Sang Maha Rahman dan Rahim ini sehingga, bukan hanya mencakup aturan bagi sesama manusia saja, melainkan juga terhadap alam dan lingkungan hidupnya.

Lingkungan menurut Islam mencakup semua usaha kegiatan manusia dalam sudut ruang dan waktu. Lingkungan ruang mencakup bumi, air, hewan, dan tumbuh-tumbuhan serta semua yang ada di atas dan di dalam perut bumi, yang semuanya diciptakan Allah untuk kepentingan umat manusia, untuk menunjang kelangsungan hidupnya. 

Sebagai khalifah, manusia diberi tanggung jawab pengelolaan alam semesta untuk kesejahteraan umat manusia, karena alam semesta memang diciptakan Tuhan untuk manusia. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta pembimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya. Dalam rangka tanggung jawab sebagai khalifah Allah tersebut, manusia mempunyai kewajiban untuk memelihara kelestarian alam. Seperti dalam firman Allah yang berbunyi:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu dan janganlah kamu melupakan bahagiamu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang berbuat kerusakan” (Q.S. Al-Qashash: 77).

Pada saat memasuki bulan Zulhijjah, yang mana di bulan ini terjadinya peristiwa besar di dunia yaitu pelaksanaan haji. Jamaah haji dari seluruh penjuru dunia datang ke Saudi Arabia untuk menunaikan ibadah haji. Selain pusing dalam urusan logistik dan keamanan, kehadiran serentak sekitar 2,5 juta jemaah haji biasanya juga menimbulkan tantangan lingkungan yang sangat besar.

Tapi berbeda untuk tahun ini karena, kondisi pandemi saat ini, maka yang bisa menunaikan ibadah haji dibatasi dan hanya untuk orang-orang terpilih saja. Ibadah haji tahun ini dibatasi hingga maksimum 10 ribu jemaah. Bagi pegiat lingkungan seperti Nouhad Awwad, mengatakan bahwa bukan ukuran massa yang menentukan dampak pada lingkungan tetapi lebih pada "perilaku kolektif kita". "Haji tahun ini, meskipun berlangsung pada waktu yang sulit secara global, dapat menjadi sumber harapan," kata juru kampanye Greenpeace. Pemandangan di Mekah sejak musim haji tahun ini sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak tampak massa besar yang bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain, melainkan pergerakan jemaah yang terbatas dan teratur.

Kita ketahui bersama bahwa dalam pelaksanaan haji merupakan peristiwa besar luar biasa yang mana seluruh jamaah haji berkumpul dalam satu waktu dan tempat yaitu Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Menjadi pembahasan di sini adalah perilaku dari para jamaah haji ketika berada di Arafah dan Mina. Karena ketika pelaksanaan haji, para jamaah menginap di tenda-tenda yang sudah disiapkan oleh Pemerintah Saudi Arabia, sehingga sarana dan prasarananya pun terbatas, di antaranya toilet. Untuk bisa menggunakan toilet kita harus antri cukup lama. Yang perlu disoroti di sini adalah cara para jamaah haji menyikapi hal-hal seperti ini dan bisa mengantisipasi hal yang dilakukan ketika kondisi seperti ini.

Sebelum keberangkatan haji, sudah dilaksanakan berbagai hal persiapan untuk para jamaah haji termasuk di antaranya adalah manasik haji. Pada saat manasik haji banyak sekali bekal yang sudah diberikan kepada jamaah termasuk dalam hal ketika puncak pelaksanaan haji di Armuzna. Bukan hanya perbekalan dalam pelaksanaan ibadah saja, tapi juga perlu sekali disampaikan kepada jamaah haji untuk mempersiapkan diri dan mental ketika berada di Armuzna dengan fasilitas yang terbatas dan jumlah jamaah haji yang sangat banyak. Termasuk yang juga penting disampaikan adalah cara untuk bisa tetap menjaga kebersihan lingkungan (peduli lingkungan), walaupun dengan sarana yang terbatas. Karena, kewajiban menjaga lingkungan bukan merupakan tanggung jawab sebagian atau sekelompok orang saja, melainkan semua orang atau lapisan masyarakat harus ikut serta berperan dalam menjaga lingkungan.

Terutama ketika menjadi tamunya Allah, harus bisa selalu menjadi tamu yang baik dengan selalu menjaga kebersihan lingkungan. Ada ungkapan, kebersihan sebagian dari iman (Arab : an-nazhaafatu minal iimaan). Kalimat "kebersihan sebagian dari iman" ini, merupakan ungkapan yang baik (Islami), karena didukung sebuah hadis yang menurut Imam Suyuthi berstatus hasan, yakni sabda Nabi saw "Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah baik dan mencintai kebaikan, bersih dan mencintai kebersihan, mulia dan mencintai kemuliaan, dermawan dan mencintai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan janganlah kamu menyerupai orang Yahudi."(HR. Tirmidzi) (Lihat Imam As-Suyuthi,Al- Jami Ash-Shaghir, I/70; Muhammad Faiz Almath,1100 Hadits Terpilih, [Jakarta : GIP], cetakan keenam, 1993, hal. 311).

Untuk menjaga kebersihan lingkungan diperlukan sekali ketika pelaksanaan ibadah haji, terutama pada saat di ARMUZNA (Arafah, Muzdalifah dan Mina). Menjaga kebersihan lingkungan ini adalah menunjukkan perilaku yang baik (akhlaq yang baik terhadap lingkungan), maka ini harus dibiasakan. Ketika kita sudah terbiasa, maka di manapun kita berada, kita akan selalu menjaga kebersihan lingkungan. Namun, ternyata kesadaran itu masih belum dimiliki oleh semua jamaah haji. Maka hal tersebut menjadi penting untuk disampaikan kepada semua jamaah haji sebelum berangkat haji, atau bisa disampaikan ketika pelaksanaan manasik haji, agar seluruh jamaah haji semuanya memiliki kesadaran untuk senantiasa tetap menjaga kebersihan lingkungan di manapun (peduli lingkungan). Salah satu arahnya dengan tidak membuang sampah sembarangan, agar membiasakan diri untuk selalu bisa membuang sampah pada tempatnya.

Jamaah haji yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan, maka tidak akan melakukan hal-hal yang membuat lingkungan tidak bersih apalagi merusak lingkungan. Ia akan selalu berusaha untuk menjaga lingkungan agar tetap terlihat bersih dan indah. Kepada Kementerian Agama RI disarankan ketika memberikan manasik haji untuk bisa menyelipkan materi kepada para calon jamaah haji untuk “Peduli Lingkungan”. Bisa dengan mengundang Dinas Lingkungan Hidup setempat untuk menjadi narasumber dalam pemberian materi tersebut, agar para jama’ah haji Indonesia bisa menjadi jamaah haji yang senantiasa menjaga lingkungan di manapun berada, cinta dan peduli dengan lingkungan.

Upaya mitigasi atau pengurangan atas dampak perubahan iklim harus melibatkan semua sektor sebagai suatu gerakan yang kompak agar hasil yang dicapai dapat terwujud. Bahkan lewat ibadah haji, upaya tersebut bisa dilakukan dengan cara yang sederhana. Memasuki musim haji, kalangan umat Islam pun dapat berkontribusi untuk menyumbangkan langkah nyata untuk bersama-sama memperlambat laju pemanasan global dan perubahan iklim. Salah satu caranya dengan menjadi “Haji Ramah dan Peduli Lingkungan”. Hal ini selain mewakili nama baik umat Islam, jamaah haji Indonesia juga dapat menjadi model atau teladan yang mengharumkan nama negara, terutama bila di dalam beribadah para jamaah haji memberikan contoh-contoh positif yang dapat menyentuh seluruh umat dan seluruh lini masyarakat duni, yaitu kepedulian terhadap lingkungan. Semoga jamaah haji kita akan selalu menjadi haji yang ramah dan peduli lingkungan, yang dapat meningkatkan iman dan ihsan. Menjadi haji yang mabrur dengan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, termasuk cinta lingkungan.

Penulis: 
Sri Heldawati
Sumber: 
Dinas Lingkungan Hidup