Kearifan Lokal Senjata Melawan COVID-19

Awal tahun 2020, Indonesia dikejutkan oleh munculnya penyakit baru yang diinfeksi oleh virus corona. Seperti yang sudah banyak diberitakan, kemunculan virus ini sebenarnya sudah sejak akhir tahun 2019, sehingga penyakit yang ditimbulkannya disebut COVID-19. Data kasus terinfeksi dari hari ke hari semakin meningkat. Sedangkan banyak ahli yang menyebutkan Indonesia belum mencapai puncak kondisi infeksi corona.

Banyak penjelasan ilmiah tentang virus yang diduga merupakan hasil mutasi genetik dari virus corona sebelumnya. Tidak luput pula teori-teori konspirasi mewarnai informasi yang kita terima mengenai pandemik ini. Terlepas dari bagaimana virus itu muncul, yang pasti virus ini menjadi musuh bersama secara global. Bahayanya nampak dari angka kematian yang disebabkannya, tidak hanya itu, perekonomian dunia pun terganggu.

Berbagai upaya dilakukan untuk menyembuhkan juga mencegah. Tenaga kesehatan dengan keilmuannya dinilai sebagai garda terdepan dalam melawan keberadaan virus ini. Berbagai informasi yang dibagikan di berbagai media massa dan sosial menjadikan kita tidak hanya berlimpah pengetahuan tetapi juga kecemasan. Nyatanya, langkah pertama dalam melawan penyakit ini adalah dimulai dari diri kita sendiri.

Berbagai ide dibagikan untuk mencegah penyebaran. Dimulai dengan pencetusan social distancing yang dinilai efektif untuk mencegah penyebaran virus yang menjadikan manusia sebagai inangnya. Tak lama, muncul istilah lain physical distancing yang dinilai lebih tepat untuk menggambarkan metode yang dilaksanakan, yaitu dengan menjaga jarak kita secara fisik dengan orang lain minimal 1 meter. Cara-cara tersebut tentu saja dicetuskan dengan pertimbangan keilmuan dari bidang kesehatan. Tujuannya tidak hanya agar kita tidak tertular tetapi juga mencegah kita menularkan kepada orang lain. Berbagai ide tadi tidak bisa berhasil jika tidak kita laksanakan. Oleh sebab itu, kitalah yang menjadi langkah pertama pencegahan penyebaran virus tersebut.

Namun, Indonesia dengan berbagai suku dan budaya memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika yang sejak lama dipedomani dalam berkehidupan, menjadikan masyarakatnya senang dalam berkumpul. Silaturahmi dalam berbagai kemasan merupakan kesenangan, kekhasan masyarakat Indonesia pada umumnya, dan masyarakat Bangka Belitung pada khususnya. Sebut saja tradisi Mudik dan Ngabuburit yang sudah dikenal secara nasional, lalu ada Nganggung, tradisi Makan Bedulang, Gi Namu saat perayaan lebaran (Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, Ruwahan dan sebagainya), dan tradisi lain yang intinya adalah berkumpul dan bersilaturahmi. Belum lagi kebiasaan “nampil” yaitu, berkunjung ke tetangga untuk saling bertukar cerita atau sekedar bertukar kabar hari itu. Tradisi-tradisi tersebut menunjukkan kuatnya rasa kebersamaan kita, kesetiakawanan sosial kita.

Kemunculan COVID-19 mendesak kita untuk sementara meninggalkan tradisi, kebiasaan, kearifan lokal tersebut. Tidak hanya kehidupan bermasyarakat yang terhalang oleh virus ini. Berbagai lapisan masyarakat merasakan dampaknya. Bahkan, seluruh dunia merasakan akibat dari kemunculan virus ini terutama bidang kesehatan dan bidang ekonomi. Tidak sedikit orang yang harus kehilangan mata pencaharian dan kesulitan dalam menunjang perekonomian rumah tangganya pada masa krisis yang disebabkan wabah virus ini. Namun, yang perlu kita ingat, kita masih memiliki kearifan lokal lain yang bisa digunakan sebagai senjata melawan COVID-19 ini.

Bangka Belitung dengan kekayaan budayanya memiliki berbagai adat istiadat. Social distancing dan physical distancing mungkin menjauhkan kita secara fisik dalam berkegiatan sehari-hari. Namun, masyarakat Bangka Belitung tentu tetap terikat secara psikis melalui semboyan-semboyan yang menjadi kearifan lokal di provinsi kita tercinta.

Sebut saja “Serumpun Sebalai”, “Sepintu Sedulang”, “Selawang Segantang”, “Sejiran Setason”, “Junjung Besaoh” dan lain sebagainya, menjadi kata-kata semboyan yang melekat di ingatan dan hati kita untuk tetap bergerak, bergotong royong, saling membantu, bersinergi dalam melawan musuh bersama ini. Tidak sedikit donasi yang sudah dibuka untuk bersama-sama membantu melawan COVID-19 ini, berbagai kalangan dengan apa yang ia miliki, entah itu tenaga, ilmu, maupun harta. Nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong dapat dijadikan landasan kita bersatu saling membantu, menyisihkan sedikit untuk bisa saling berbagi.

Sebagai penganut agama pun, Umat Islam dengan Zakat, Infaq dan Sedekahnya, Budha melalui pengumpulan Dermanya, Kristen melalui pengumpulan dana gereja dan sebagainya dapat dimanfaatkan untuk menyokong perekonomian rumah tangga saudara kita yang mengalami kesulitan karena wabah ini.

Kita semua mempunyai harapan yang sama, agar virus ini segera hilang dari muka bumi ini. Tidak ada lagi ketakutan dan kecemasan, orang-orang dapat bekerja dengan tenang, anak-anak dapat kembali bersekolah, ekonomi kembali pulih dan kita dapat bersilaturahmi kembali dengan hati gembira.

Bersilaturahmi dalam berbagai kemasan memang menjadi kearifan lokal yang mempererat kesetiakawanan sosial, namun saat ini, menjaga jarak dalam rangka menjaga diri dan menjaga sesama adalah bentuk kesetiakawanan sosial pula, terdapat nilai kepedulian kepada sesama dalam social dan physical distancing. Melalui nilai-nilai gotong royong, saling membantu, saling berbaga, dan empati yang juga terdapat dalam kearifan lokal kita, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat bersama melawan COVID-19. Tidak perlu takut saat ini kita berjarak, karena kita tetap terikat dalam hati yang peduli.

Penulis: 
Dwi Ratna Laksitasari, S.Psi
Sumber: 
Dinas Sosial Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Artikel

17/09/2020 | Dinas Lingkungan Hidup
11/08/2020 | Pengendali Dampak Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
17/07/2020 | Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutan RI

ArtikelPer Kategori