Ketika Musa Diundang Dewan

PANGKALPINANG – Wajah Laode Abu Hanafi selalu menebar senyum, meski berkali-kali para pejabat dan kaum hawa mengajak anaknya berfoto bersama. Ia tidak bisa menolak ajakan itu, walaupun saat itu sudah waktunya makan siang. Abu Hanafi berusaha tetap ramah dan menghargai permintaan masyarakat.

Suasana itu terekam jelas di ruang rapat Gedung DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Jum’at (15/8/2014), usai digelarnya Rapat Paripurna Istimewa dengan agenda mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rangka Peringatan HUT ke-69 Proklamasi Kemerdekaan RI melalui layar TVRI.

 “Mohon maaf kalau Musa merasa capek ya, Pak, Bu,” kata Abu Hanafi dengan ramah, menanggapi permintaan masyarakat untuk mengajak anaknya berfoto bersama kembali.

Toh, Abu Hanafi tetap gagal menolak permintaan itu. Sehingga ajakan foto bersama pun kembali dipenuhinya. Begitulah kerendahan hati seorang Abu Hanafi.

Laode Abu Hanafi, lelaki 33 tahun itu merupakan orangtua dari Musa, bocah yang namanya mulai mendunia atas prestasinya sebagai hafidz termuda.

Bangka Belitung boleh bangga dengan kepiawaian sang bocah melafazkan dan menghafal ayat demi ayat Al Qur’an hingga 30 juz. Bimbingan kedua orangtuanya serta kebiasaan membaca kitab suci Al Qur’an mengangkat Musa hingga dikenal hingga ke mancanegara.

Kendati usianya baru lima tahun lebih, namun bocah itu sudah hafal Al Qur’an. Karena itulah dirinya dinobatkan sebagai penghafal Qur’an terbaik melalui ajang Hafidz Indonesia 2014 yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional. Bahkan Musa diikutsertakan dalam lomba tahfidz internasional di Jeddah, Arab Saudi bersama hafidz dari seluruh dunia. Musa menjadi peserta termuda, dan berhasil meraih urutan 12. Meski tidak meraih puncak juara, namun predikat itu dinilai mengagumkan karena usianya yang masih belia.

Atas prestasinya itulah, Musa dan keluarganya diundang bersama tamu lainnya oleh Sekretariat DPRD Babel untuk menghadiri rapat paripurna istimewa. Selama berlangsungnya rapat, Musa tampak duduk tenang disamping ayah dan saudaranya. Namun setelah rapat selesai, para undangan berebutan minta foto bersama.

Begitu banyak orang yang mengerumuni Hanafi dan anaknya. Ada ibu-ibu yang langsung foto selfie. Ada juga bapak-bapak yang mencium tangan dan wajahnya. Di tangan bocah berbalut busana muslim serba putih lengkap dengan peci itu, terselip beberapa lembar uang kertas seratus ribuan – yang barangkali dari masyarakat yang mengaguminya.

Bahkan ketika Musa yang ditemani orangtua dan kedua adiknya melangkah meninggalkan ruang rapat untuk beristirahat dan makan siang, ada seorang perempuan kembali mengejar untuk mengajak foto bersama kembali namun gagal.

Selain Musa yang diundang sebagai salah satu putra terbaik Babel yang berprestasi, hadir pula Yendri Huddami juara pertama lomba ajang Kontes Dangdut Indonesia 2014 beserta sejumlah atlet, guru, siswa, maupun tenaga medis berprestasi. (im)

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Ismail
Fotografer: 
Ismail
Editor: 
ErMaNiX