"Korpus Mapur" Perkaya Khasanah Ilmu dan Kebudayaan Bangka


Pangkalanbaru - Korpus Mapur dalam Islamisasi Bangka menjadi sebuah karya yang sangat penting dalam sejarah islam di bangka. Kehadirannya menambah khasanah ilmu dan wawasan bagi kita semua, kata Rektor UBB Prof. Dr. Bustami Rahman saat menjadi pembicara dalam acara bedah Buku Korpus Mapur dalam Islamisasi Bangka di Hotel Aston Soll Marina Bangka, Sabtu (13/12/14).
Buku setebal 580 halaman karya penulis muda Teungku Sayyid Deqy ini berisikan tentang studi islamisasi di Pulau Bangka. Buku ini merupakan hasil riset yang dilakukannya selama delapan tahun mengenai studi islamisasi di Pulau Bangka. Wilayah Mapur yang diinterpretasikan sebagai wilayah kepurbaan Bangka yang akrab dengan predikat pemegang sentral magis, dan jauh sekali dari ranah keislaman, dalam buku ini justru ditampilkan dalam wajah yang memiliki akulturasi islamisasi itu sendiri.
"Korpus Mapur adalah buah dari kerja keras, ketekunan dan pengorbanan yang luar biasa dari seorang anak muda yang ingin mengetahui sejarah islam dibangka," ujar Bustami Rahman. Di belakangnya pasti bermukim cita-cita dan misi besar serta mulia yang hendak disampaikan kepada bangsa ini.
Hal senada juga dikatakan oleh Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayayullah Jakarta Prof Dr Dien Majid bahwa buku ini mengupas jejak Islam awal ke Pulau Bangka beserta para tokohnya dan juga bukti arkeologis berupa makam- makam kuno Islam beserta kajian inskripsi-epigrafinya. Tidak hanya membahas seputar islamisasi, buku ini juga mengupas mengenai kehidupan Orang Lum dan peradaban Mapur serta hubungannya dengan Islamisasi itu sendiri. Buku ini menjadi karya yang sangat inspiratif bagi kita semua dan perlu kita apresiasi.
"Masih ada org muda yang memikirkan bangsa dalam sejarah. Dan Buku ini benar-benar menjadi seuatu yang penting dalam sejarah budaya bangka, perjalanan islam dipulau bangka," ujarnya.
Lebih jauh Prof Dr Dien Majid mengatakan bahwa buku ini bentuk dari Aspirasi sejarah lokal. Sejarah bangka belum terekam lengkap dalam buku sejarah yang lain. Lewat buku ini, seorang anak muda asli bangka mencoba meneliti dan menulis dalam buku untuk memberikan kita tentang sejarah awal tentang islam di pulau bangka dan menjadi aset yang berharga bagi bangka.
Sementara itu Ketua IKT Ali Samsuri mengatakan bedah buku ini merupakan bentuk apresiasi IKT atas upaya keras penulis dalam menghadirkan sebuah literatur yang berkualitas dan sarat dengan ilmu pengetahuan. 
"Kita angkat topi kepada saudara Teungku Sayyid Deqy atas buah karyanya yang cukup fenomenal ini. Di usianya yang masih cukup muda, ia telah berhasil menghadirkan karya yang luar biasa dan sangat inspiratif," ujar Ali.
Teungku Sayyid Deqy sendiri berharap agar buku ini menjadi pengantar yang lebih riil mengenai topografi islamisasi yang selama ini luput dari kajian ilmiah. Terutama dengan menggunakan pendekatan interdisipliner seperti pendekatan arkeologi sejarah, studi filologi, sosio-antropologi, inskripsi-epigrafi dan hidrografi.
"Semoga buku ini menjadi ensiklopedi Islam pertama di Pulau Bangka yang memberikan manfaat serta pencerahan kepada masyarakat mengenai proses interaksi Islam di Pulau Bangka dengan beragam pendekatan disiplin ilmu," harapnya.
Teungku Sayyid Deqy berharap bagi generasi sekarang untuk menjaga aset dan materi kebudayaan, baik berbentuk kebendaan, tulisan, dan juga tutur lisan, dan ingin sekali mengajak masyarakat untuk menumbuhkan budaya riset terhadap suatu wacana yang akan diteliti. 
Sebagai informasi, ada satu bagian cukup penting dari buku ini adalah, merekonstruksi tokoh legendaris Pulau Bangka yang dianggap sakti dan luar biasa, yaitu ketokohan Akek Antak. Hipotesa dalam buku ini merupakan salah satu pencapaian mutakhir dari upaya untuk membangun ketokohan Akek Antak yang ternyata seorang wali Islam Pulau Bangka yang paling lampau, yaitu hidup di sekitar abad ke 10 M. Akek Antak merupakan tokoh wali yang paling fenomenal namun dianggap sebagai tokoh mitologi yang berhasil merebut semua komposisi lisan masyarakat Bangka.
Selain menghadirkan akademisi seperti Prof Dr Bustami Rahman Rektor UBB, Prof Dr Dien Majid dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai pemedah, kegiatan bedah buku ini juga menghadirkan Dra Retno Purwanti, M.Hum dari Balai Arkeologi Palembang. Bedah buku Korpus Mapur yang diikuti ratusan peserta, baik dari kalangan pemrintah, budayawan, akademisi, mahasiswa/pelajar, media, maupun masyarakat umum ini berlangsung sangat menarik. (*an)
 

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Surianto
Fotografer: 
Surianto
Editor: 
Surianto