Kuberikan Senyum Ini Untukmu Walaupun Hatiku Menjerit

MANGGAR – Satu-dua dedaunan jatuh dari pohon akasia yang berada di sepanjang jalan Desa Mudong Kecamatan Manggar Kabupaten Belitung Timur, Kamis (25/09/2014) siang itu. Debu-debu tampak beterbangan dari badan jalan yang dilintasi kendaraan tim pembinaan dan penertiban dari Dinas Kesejahteraan Sosial (Dinkessos), Direktorat Pembinaan Masyarakat Kepolisian Daerah (Dir Binmas Polda), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), serta Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dua unit kendaraan roda empat itu melaju pelan, menuju sebuah kawasan pesisir di sudut luar Kota Manggar.

Sekitar pukul 11 siang, dua unit kendaraan yang membawa tim terpadu berhenti di salah satu tempat hiburan. Di pintu gerbangnya terdapat tulisan Dirgahayu ke-69 Republik Indonesia, dengan cat berwarna merah-putih dihiasi dengan beberapa lembar bendera yang melambai tertiup angin.

Di dinding sebelah kiri bangunan yang menjadi salah satu tempat tujuan tim terpadu, tertulis "Welcome to Putri Mirang, Cafe & Karaoke". Melihat ke sisi kanan belakangnya, masih tertancap tegak sebuah pohon pinang yang terikat tali-temali. Sepertinya baru saja digunakan untuk panjat pohon pinang memperingati HUT RI ke-69.

Memasuki areal dalam, suasana tampak sepi. Seorang karyawati kafe Putri Mirang bergegas menyambut kedatangan tim. Setelah berbincang ringan, belasan perempuan cantik dan dua pria tampak keluar dan langsung duduk berjejeran dengan santai di kursi-kursi ruangan kafe yang juga berfungsi sebagai karaoke itu.

Beberapa saat kemudian tim langsung membuka acara dengan penyuluhan-penyuluhan ringan, dari Kabid Rehabilitasi Sosial Dinkessos Babel Effendi SPd, Direktorat Pembinaan Masyarakat Polda Babel melalui Brigadir Polisi Juai Febriana SH, Kabid Penegakan Peraturan Daerah Satpol PP Babel Sucipto Nugroho SH, dan Kepala UPTD Panti Sosial Bina Serumpun M Nazrin SAg.

Para perempuan cantik itu merupakan pekerja di tempat hiburan malam tersebut. Jumlah mereka tidak terlalu banyak, sekitar 22 orang. Umumnya mereka berasal dari kota kembang Bandung dan Bogor. Usianya pun terbilang masih muda, berkisar 21 hingga 29 tahun. Menurut data yang mereka tulis di daftar yang disediakan Dinkessos Babel, rata-rata baru satu bulan hingga dua tahun mereka bekerja di tempat itu.

Beberapa kali wanita yang sebagian besar menyandang status janda itu tampak tersenyum sambil mengeluarkan tawa lepas ketika M Nazrin SAg menyampaikan materi yang lebih bersifat pembinaan mental. Beragam kisah inspiratif menyentuh hati mereka. Bahkan suasana hening kembali terasa ketika Nazrin mengajak mereka untuk tidak melupakan ibadah selama mencari nafkah sebagai pekerja tempat hiburan malam. Menurut Nazrin, rezeki dari Tuhan Yang Maha Pengasih dapat dicari di seluruh muka bumi untuk memberi manfaat kepada manusia.

"Tidak hanya di tempat hiburan saja Tuhan memberikan rezeki, masih banyak tempat lain yang menjadi sumber rezeki. Maka ibadah menjadi kewajiban kita sebagai umat beragama," pesannya.

Dirinya juga sempat menyinggung alasan kaum hawa memilih bekerja di tempat hiburan malam. Antara lain karena faktor kecelakaan dalam berpacaran dan gejala perselingkuhan pasangan suami istri, keterpaksaan karena ekonomi, hingga alasan hobi. Namun faktor-faktor tersebut hendaknya dapat disikapi dengan bijaksana dan selalu berserah diri kepada Sang Pemberi Rezeki.

"Saya mengerti bahwa tidak ada yang ingin bekerja seperti ini. Kadangkala hati adik-adik di sini menjerit dalam melayani tamu yang berkunjung. Ibarat kata, ku berikan senyuman ini untukmu meskipun hatiku selalu menjerit," ujar Nazrin yang membuat para perempuan itu tertunduk bisu. Tak ada suara yang keluar sedikit pun dari bibir perempuan-perempuan cantik itu.

Begitulah mereka, para pekerja tempat hiburan malam. Tak jarang canda tawanya sekejap berubah menjadi tangisan haru. Keberadaan mereka menambah daftar baru di puluhan tempat hiburan malam di Kabupaten Belitung Timur. Dari jumlah tersebut, baru enam tempat hiburan yang memiliki izin resmi. Bahkan ada diantaranya yang tergabung dalam wadah Asosiasi Pengelola Tempat Hiburan (APTH) Beltim. Padahal Pemerintah Kabupaten Belitung Timur melalui Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) memiliki rencana untuk merelokasi mereka pada satu tempat. Namun kondisi itu belum terwujud karena terkendala status kawasan.

"Rencananya memang mau dibuat dalam satu kawasan, tapi masih terkendala status kawasan lindung pantai," ungkap Kepala Dinsosnakertrans Beltim, Syahrial saat menerima kunjungan tim terpadu di ruang kerjanya, Kamis (25/09/2014).

Syahrial berharap para pengelola tempat hiburan dapat mengajukan permohonan ijin guna legalitas operasionalnya. (ism/reni-tim mc)

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Ismail | Reni
Fotografer: 
Ismail
Editor: 
Ismail