Outbound Revolusi Mental Hilangkan Sifat Individualis

Subang – Hari terakhir pelaksanaan revolusi mental, Jumat (1/5/2015) peserta mendapatkan gemblengan fisik. Pasalnya peserta menjalani kegiatan outbound di lapangan. Ini menjadi bagian diklat revolusi mental yang bertujuan menghilangkan rasa individualis peserta, sehingga menumbuhkan rasa kebersamaan dan gotong-royong.

Mayjen (purn) Adang Sondjaja Sekjen Lembaga Pendidikan dan Latihan Yayasan Astha Hannas, Subang, Jawa Barat mengatakan, semua itu bagian kegiatan revolusi mental. Tujuan kegiatan outbound ini, selain dapat meningkatkan sikap berani, juga melatih mental melakukan pengamanan diri. Tak kalah penting, kegiatan ini berguna meningkatkan kekompakan tim. Setelah mengikuti pelatihan, tingkat kebersamaan peserta menjadi lebih baik.

“Menumbuhkan semangat dan toleransi tinggi serta saling menghormati antara peserta,” ungkapnya saat ditemui babelprov.go.id, di Kampus Pembangunan Karakter Bangsa Indonesia, Subang, Jawa Barat, Jumat (1/5/2015).

Jika ada topi teman tertinggal, jelasnya, anggota tim mengingatkan. Begitu juga jika ada peserta yang sakit, selanjutnya peserta sehat melaporkan kepada pelatih. Jadi tidak ada lagi rasa individualis peserta, sebaliknya sudah timbul keinginan peserta untuk bergotong-royong.

Pantuan babelprov.go.id, sekitar pukul 09.00 WIB peserta mulai digiring ke lapangan pelaksanaan kegiatan outbound. Terdapat beberapa halang rintang harus dilalui peserta di antaranya, rintangan tali, rintangan balok, jembatan goyang, rintangan balok miring, halangan dinding, lobang hantu –peserta masuk dalam lobang ban–, sampai menuruni rintangan tebing.

Sebelum mengikuti semua kegiatan tersebut, peserta terlebih dahulu melakukan pemanasan. Harapannya, pemanasan ini dapat melemaskan otot peserta agar tidak terjadi keram ketika melewati halang rintang. Setiap kelompok mendapatkan kesempatan mengirimkan tiga peserta sebagai perwakilan.

Selain itu, terdapat gladi posko atau yang diberi nama gladi manajemen pemerintahan. Ia menambahkan, gladi tersebut merupakan bagian diklat revolusi mental. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan provinsi pertama yang mengirimkan peserta mengikuti kegiatan ini. Peserta diklat ini merupakan angkatan keenam tahun 2015.

Lebih jauh ia menjelaskan, fungsi gladi ini untuk melatih dan menganalisa peserta dalam pengelola RAPBD. Latihan ini direalisasikan untuk menunjang pembangunan, sehingga mengacu pembangunan pro rakyat. Ketika melakukan perencanaan tidak boleh mentolerir niat, kesempatan, keberanian dan kelemahan hukum. Hal ini untuk mencegah dan sebagai langkah antisipasi mengindari persoalan hukum.

“SKPD yang kita mainkan, dinas pendidikan, dinas kebudayaan, dinas pekerjaan umum dan dinas lingkungan hidup,” ungkapnya

Prioritas pendalaman yaitu pada tupoksi kerja lingkungan hidup. Ia menambahkan, semua itu merupakan upaya mencari dan melakukan pencegahan kerusakan ekosistem lingkungan. Jangan karena ingin mengambil hasil tambang timah, membuat lahan rusak. Peserta pelatihan ini mendiskusikan mengenai koordinasi sektoral dengan Kementerian Dalam Negeri serta SKPD terkait.

“Peserta sangat bersemangat mengikuti kegiatan pelatihan, karena mendapatkan pembekalan proses penganggaran mulai dari membuat rencana kerja anggaran sampai membuat rancangan evaluasi,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Noviar Ishak Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Menurutnya, selain menumbuhkan rasa kebersamaan dan gotong-royong, juga bertujuan meningkatkan kerja sama tim. Sebab sesama anggota tim harus mengetahui kemampuan masing-masing. Anggota yang ditugaskan mengikuti kegiatan harus benar-benar siap.

“Anggota tidak boleh egois, sebab semua harus aktif. Hal ini dapat diimplementasikan di kehidupan nyata dalam bidang pemerintahan,” tegasnya.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Surianto | Huzari
Fotografer: 
Surianto
Editor: 
Huzari