Pangan Sehat Murah Dan Mudah Dalam Upaya Pengendalian Inflasi

Tidak dapat dipungkiri pertumbuhan penduduk di dunia semakin tak terbendung dan tidak terkendali. Pertumbuhan penduduk layaknya seperti dua sisi mata uang, satu sisi memberikan dampak positif yaitu sebagai peluang pasar bagi aktivitas ekonomi, namun di sisi lain memberikan “beban” jangka menengah maupun jangka panjang bila dikaitkan dengan kebutuhan konsumsi pangan.

Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2019 jumlah penduduk sebesar 1.488.792 jiwa, mengalami peningkatan dari tahun 2018 yang berjumlah 1.459.873 jiwa. Peningkatan jumlah penduduk ini tentu saja akan mempengaruhi jumlah kebutuhan beras di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, apalagi diketahui bahwa jumlah penduduk merupakan salah satu indikator angka kebutuhan beras.

Dinas Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat pada tahun 2017 angka kebutuhan beras sebesar 121.876 ton meningkat dari tahun 2016 sebesar 119.663 ton. Ketersediaan pangan terutama beras di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berasal dari luar daerah sebesar 82,18 persen mengalami penurunan dari tahun 2016 sebesar 82,70 persen. Penurunan ini terjadi dikarenakan tahun 2017 adanya peningkatan produksi beras bersih sebagai produk lokal sebesar 21.772 ton, dimana pada tahun 2016 produksi beras lokal hanya 2016 produksi beras lokal hanya 20.706 ton. Namun kondisi ini belum mampu mencukupi ketersediaan pangan terutama beras.

Apabila kita berbicara mengenai beras, secara deskriptif berkaitan dengan salah satu indikator makro pembangunan yaitu inflasi. Ketidakseimbangan antara supply dan demand menyebabkan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok sehingga terjadinya inflasi. Beras merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi di beberapa daerah Indonesia. Tahun 2018 inflasi Bangka Belitung mencapai 3,18 persen lebih tinggi daripada nasional sebesar 3,13 persen. Artinya inflasi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berada di level 3-4 persen dan termasuk kategori ideal. Kelompok bahan makanan sebesar 0,87 persen adalah kelompok pengeluaran memberikan andil inflasi Bangka Belitung. Inflasi daerah masih dipicu oleh kebutuhan pokok dan telah menjadi isu strategis pembangunan di Bangka Belitung.

Berbagai upaya dilakukan Pemerintah Daerah untuk memitigasi risiko gejolak inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TIPD), Satgas Pangan, serta program-program pembangunan yang ada pada Perangkat Daerah. Namun hasilnya belum sesuai dengan harapan. Sekilas kita memandang ini semua merupakan suatu bencana. Sesungguhnya dibalik itu semua, beberapa pelajaran yang dapat dipetik untuk pembagunan daerah kita. Paling utama meyakini bahwa apa pun usaha adalah perjuangan. Semua pihak selalu positif menghadapi tantangan dan memberi kontribusi terhadap pencapaian dan kesuksesan pembagunan di Bumi Serumpun Sebalai.

Berdasarkan beberapa ulasan mengenai fenomena di atas, tanpa kita sadari sesungguhnya penyediaan bahan kebutuhan pokok khususnya pangan sehat itu murah dan mudah. Dalam upaya pengendalian inflasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pemerintah daerah bersama akademisi, swasta, terutama masyarakat Bangka Belitung bisa membantu mengendalikan inflasi dengan menggunakan produk lokal sesuai kebutuhan. Apabila kita bisa menjaga inflasi pada angka yang ideal, maka manfaatnya betul-betul dapat dirasakan bagi kesejahteraan masyarakat. Pada proses pelaksanaan pembangunan telah terjadi pergeseran paradigma bahwa masyarakat adalah pelaku (subjek) pembangunan bukan sebagai sasaran (objek) pembangunan, sehingga masyarakat cenderung dituntut lebih pro aktif untuk berpartisipasi.

Ada sebuah kalimat yang dipopulerkan oleh Hipokrates seorang filsuf dari Yunani “you are what you eat”, kamu adalah apa yang kamu makan. Pernyataan klise kalau ingin makan karena ingin sehat atau ingin  kenyang. Apapun yang kita makan mencerminkan seperti apa kita seharusnya, dan memahami apa tujuan kita makan juga merefleksikan jenis pangan sehat yang kita konsumsi. Pangan sehat merupakan makanan yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang dalam tubuh. Gizi seimbang dimaksud mampu mencukupi kebutuhan makro nutrien tubuh meliputi karbohidrat, protein, dan lemak.

Lantas bagaimana konsumsi pangan sehat yang dibutuhkan tubuh ? Panduan dari World Health Organization (WHO) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah 50 persen buah dan sayur, 25 persen karbohidrat, serta 25 persen protein. Nah, tentu kita bertanya darimana mendapatkan seluruh kebutuhan sesuai porsi ideal tersebut ? Tidak perlu jauh-jauh, semua pangan sehat itu ada disekitar kita dan mudah dijangkau. Kualitas dan kuantitas konsusmsi pangan semakin beragam, bergizi seimbang dan aman ditunjukkan dengan peningkatan Skor Pola Pangan Harapan (PPH). Food Agriculture Organization (FAO) mendefinisikan PPH sebagai komposisi kelompok pangan utama yang bila dikonsumsi dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi lainnya.

Potret pola konsumsi masyarakat Bangka Belitung masih tergantung pada salah satu komoditi yaitu beras yang termasuk salah satu jenis kelompok pangan padi-padian. Berdasarkan Skor PPH Konsumsi tahun 2017 kelompok pangan padi-padian telah mencapai angka ideal sebesar 25 persen. Beras putih mengandung glikemik tinggi yang cepat menjadi gula darah. Upayakan mulai sekarang menghindari konsumsi beras putih berlebihan. Sungguh banyak sumber karbohidrat lain. Di Bangka Belitung sendiri masih enggan mengakui kalau buah dan sayur juga bisa menjadi sumber karbohidrat, sehingga belum beragamnya pola konsumsi pangan masyarakat. Terbukti bahwa tahun 2017 Skor PPH Konsumsi Bangka Belitung untuk kelompok pangan buah dan sayur sebesar 19,6 persen dan masih di bawah angka ideal sebesar  30 persen. Total Skor PPH Konsumsi Bangka Belitung tahun 2017 sebesar 81, 20 persen dan masih dibawah ideal sebesar 100 persen. Oleh karena itu, mulai saat ini mindset pola konsumsi pangan masyarakat hendaknya harus mulai berubah.

Ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup sepanjang waktu merupakan suatu kemutlakan, sehingga menjadi prioritas pembangunan nasional dan daerah. Setiap rumah tangga diharapkan dapat mengoptimalisasi sumber daya yang dimiliki termasuk pekarangan dalam menyediakan kecukupan pangan bagi keluarga. Sejak tahun 2011 Kementerian Pertanian Republik Indonesia telah menginisiasi optimalisasi pemanfaatan pekarangan melalui konsep Rumah Pangan Lestari (RPL). RPL adalah rumah penduduk yang mengusahakan pekarangan secara intensif untuk dimanfaatkan dengan berbagai sumberdaya lokal secara bijaksana yang menjamin kesinambungan penyediaan bahan pangan rumah tangga yang berkualitas dan beragam. Manfaat program ini selain menciptakan efesiensi pengeluaran, juga bisa meningkatkan derajat kualitas kesehatan masyarakat karena mengkonsumsi makanan dengan bahan-bahan pangan yang alami dan dirawat sendiri. Komoditas tanaman yang bisa digunakan dalam program RPL meliputi umbi-umbian, sayur-sayuran, buah-buahan, ikan,  ternak unggas, serta tanaman obat keluarga (toga).

Selama ini program RPL ini telah diimplementasikan oleh masyarakat Bangka Belitung, namun masih bersifat sambilan dan belum optimal dalam pemanfaatan  lahan dan pekarangan untuk menghasilkan berbagai kebutuhan pangan yang bisa dikonsumsi. Hal ini menjadi bahan evaluasi bersama dan catatan penting dalam melakukan terobosan, perbaikan, advokasi serta pendampingan dalam memperkuat pembangunan pangan, sehingga inflasi daerah tetap terjaga pada koridornya dan sebuah langkah strategis percepatan peningkatan Skor PPH Bangka Belitung yang ideal.

Akhirnya, semoga  angka-angka statistik di atas dapat mencerahkan kita semua dan siapa saja di Bangka Belitung, bahwa membangun daerah memerlukan strategi yang tepat. Perlu kita tingkatkan bersama adalah  meningkatkan kolaborasi dan sinergitas semua pihak secara berkelanjutan serta fokus pada inovasi berbasis potensi lokal. Sebenarnya sudah dimulai, namun masih terkendala pada tataran implementasi dan  komitmen membangun budaya positif yang menghargai kontribusi dari siapa pun yang berusaha untuk membangun daerah agar menjadi lebih baik dan lebih maju. Mari kita berjuang bersama untuk mengubah pola konsumsi dengan cara yang wajar, bervariasi, dan sehat. Semoga bisa terlaksana.

 

Penulis: 
Novita Frahesti Ade Wijaya/Perencana Bappeda Provinsi
Sumber: 
Dinas Kominfo

Artikel

31/05/2019 | Perencana Bappeda Provinsi Kep. Babel
30/04/2019 | Pranata Humas Muda pada Satpol PP Prov. Kep. Bangka Belitung
16/04/2019 | Dinas Kominfo
04/05/2016 | Muhammad Irwan Effendi, ST, Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Pertama

ArtikelPer Kategori