Panglima TNI Prihatin Terhadap Akhlak Generasi Muda

Pangkalpinang – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo merasa prihatin terhadap kondisi akhlak generasi muda. Jika tidak dilakukan pembinaan dengan baik, tak menutup kemungkinan semakin banyak generasi muda bersifat korup, serakah, tamak. Sikap tersebut dapat menghancurkan sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia. Selain itu militansi terhadap bangsa pun sudah mendekati titik kritis.

“Berbicara mengenai militansi bangsa Indonesia, berarti berbicara mengenai berapa tangguh generasi bangsa ini mengatasi beberapa kesulitan,” tegasnya saat membuka Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) XXXVI Tahun 2016, di Stadion Depati Amir, Pangkalpinang, Rabu (27/4/2016).

Seperti dilansir sebelumnya, terdapat sebanyak 1627 peserta mengikuti kegiatan ini di antaranya, 417 taruna TNI, 300 taruna Akpol, 310 peserta dari Antap, 200 mahasiswa IPDN dan 200 mahasiswa lokal. Sejumlah atraksi meramaikan acara pembukaan seperti penampilan tari-tarian dan terjun payung yang dilakukan anggota TNI dari beberapa angkatan.

Tarian Bebaur menjadi atraksi pembuka kegiatan ini. Tarian ini memberi makna mengenai pentingnya menjaga kebersamaan, sebab di Negeri Serumpun Sebalai  hidup berdampingan beberapa etnis. Untuk atraksi penerjun, dilakukan dalam tiga kali penerjunan dengan setiap kali terjun sebanyak 15 orang personel.

Menutup atraksi ini, penerjun dari ketinggian 2000 hingga 2500 meter mengibarkan pataka Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pataka IPDN, Akpol, Akmil, Akadami Angkatan Udara, Akademi Angkatan Laut, Mabes TNI, Akademi TNI dan bendera merah putih.

Lebih jauh Panglima mengatakan, motivasi generasi muda tidak memadai dan ini terjadi hampir di seluruh aspek kehidupan dan lapisan masyarakat. Contohnya, masih sepi tingkat produksi di kalangan masyarakat. Jati diri bangsa sudah mulai luntur, sebab banyak generasi muda mencari jati diri lain yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa.

Suasana eforia demokrasi berlebihan. Ia menambahkan, bangsa ini nyaris terjebak dalam dilema masa transisi. Selain itu mengalami krisis budaya, seolah-olah kehilangan pegangan dengan dibuktikan banyaknya generasi muda tidak hafal Pancasila. Apalagi untuk mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

“Tidak mengerti lagu-lagu wajib dan lagu perjuangan. Bahkan ada pihak yang melecehkan simbol dan lambang negara. Tak hanya itu, sebab terdapat ancaman nyata keganasan narkoba. Narkoba telah menjadi senjata untuk melemahkan kekuasan negara dengan menyerang anak-anak dan generasi muda,” ungkapnya.

Kasus narkoba ini sudah ada kecenderungan sudah masuk dalam kehidupan prajurit TNI, Polri dan aparat pemerintahan. Panglima menekankan agar generasi muda jangan sekali-kali mendekati atau terlibat dalam penggunaan narkoba. Pemerintah termasuk TNI dan Polri menyatakan perang terhadap narkoba. Sangat hina dan tercela jika sudah terlibat dalam penggunaan narkoba.

“Kuatkan jati diri taruna dan para mahasiswa agar tidak mudah terprovokasi. Meskipun dengan rayuan finansial. Saya dapat memastikan semua itu akan menghancurkan kehidupan bangsa sekarang maupun yang akan datang. Kita harus berkaca pada sejarah bangsa dengan mempersiapkan diri menyongsong masa depan,” tegasnya.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Rizky Fitrajaya | Huzari
Fotografer: 
Rizky Fitrajaya
Editor: 
Huzari | Adi Tri Saputra