Pemanfaatan Energi Nuklir Pilihan Terakhir

Pangkalpinang – Agus Puji Prasetyono Staf Ahli Bidang Relevansi dan Produktivitas Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia menegaskan keinginan pihak kementerian melakukan pengembangan energi, terutama bagi daerah yang mengalami krisis energi. Nuklir merupakan kebijakan terakhir yang diamanatkan dalam draf rencana umum energi nasional.

Kendati menjadi pilihan terakhir, jelasnya, sumber daya energi ini harus dipersiapkan. Sebab energi selain nuklir sangat sulit mengejar pertumbuhan ekonomi di Indonesia, terutama ketika memasuki tahun 2030 mendatang. Terdapat beberapa energi alternatif seperti panas bumi dan tenaga surya. Namun seberapa besar energi yang dapat dihasilkan dari tenaga surya.

Meskipun pembangkit listrik tenaga nuklir menjadi pilihan terakhir, namun tetap harus dipersiapkan. Ia menambahkan, penelitian dilakukan secara komprehensif. Sehingga ketika diperlukan, pengembangan energi tersebut bisa diterapkan. Sekarang ini masih dalam ranah penelitian yang dilakukan secara komprehensif.

“Jika melihat letak geografi, Bangka dan Kalimantan Timur merupakan daerah cocok untuk mengembangkan energi ini. Kalimantan Timur sudah menyiapkan ini, karena mereka ingin mengembangkan daerah berbasis industri,” kata Agus Djarot saat audiensi dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di ruang pertemuan Kantor Gubernur, Rabu (7/9/2016).

Kalimantan Timur merupakan daerah yang mempunyai cukup banyak batubara. Ia menambahkan, namun mengenai pengembangan energi, ada keinginan dari daerah ini untuk menggunakan potensi energi nuklir. Sebab pemerintah daerah setempat menilai, pembangkit listrik tenaga nuklir mempunyai kemampuan menyediakan energi kebutuhan industri.

Lebih jauh ia mengatakan, untuk melakukan pengembangan energi dapat membeli teknologi nuklir dari luar kemudian diteliti. Selanjutnya dapat diketahui mengenai manfaat maupun dampak buruk pembangkit tersebut. Sedangkan mengenai bahan yang diperlukan, jika tidak bisa menggunakan hasil produksi dalam negeri maka diimport.

Tak hanya itu, sebab standar internasional untuk melakukan pengembangan energi harus menjadi perhatian. Ia menambahkan, terdapat 31 penelitian yang dilakukan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Sebanyak tujuh penelitian terkait dengan penelitian nuklir, seperti survei potensi dan cadangan uranium dan thorium.

Potensi dan cadangan uranium dan thorium harus diketahui. Menurutnya, karena ini sangat berhubungan erat ketika Indonesia ingin mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir. Jangan sampai pembangkit sudah dibangun, namun kekurangan bahannya. Selain itu meneliti mengenai penerapan standar internasional PLTN.

Intinya, kata Agus, segala pengembangan yang dilakukan harus sesuai standar internasional. Kementerian juga melakukan optimalisasi pemanfaatan hasil penelitian untuk penerapan teknologi secara komersial. Jadi, penelitian berdampak terhadap komersialisasi atau jangan sampai penelitian yang dilakukan hanya berada di laboratorium.

“Kita juga menyiapkan pemanfaatan teknologi. Untuk itu perlu penguasaan teknologi PLTN. Tak kalah penting, menyiapkan tenaga teknis bersertifikasi di bidang ini. Semua itu harus diterjemahkan dalam RUET (rencana umum energi daerah-red). RUET ini sudah diparipurna, namun belum diterbiitkan Perpresnya. Ke depan akan disosialisasikan,” tegasnya.

Sumber: 
Diskominfo Babel
Penulis: 
Rizky Fitrajaya/Huzari
Fotografer: 
Rizky Fitrajaya
Editor: 
Huzari | Adi Tri Saputra