Pembangunan Jembatan Babel - Sumsel Disampaikan di RPJMN 2020-2024

MEDAN -- Pembangunan jembatan laut yang menghubungkan dua provinsi, Bangka Belitung dan Sumsel disampaikan  pada pertemuan Konsultasi Regional Penyusunan Rancangan Awal RPJMN 2020-2024 yang dilaksanakan di ruang Pertemuan Hotel Adimulia, Medan (13/8/2019). 

Gubernur Babel Erzaldi Rosman dan Abdul Fatah menyampaikannya langsung perihal jembatan itu dalam forum RPJMD 2020-2024.

"Sesuai  dengan prioritas pembangunan nasional, maka pembangunan jembatan Babel menuju Sumsel kiranya juga menjadi prioritas atau bisa dimasukkan dalam rancangan teknokratik RPJMN 2020-2024," ungkap Erzaldi. 

Hal senada diungkapkan Wakil Gubernur Babel Abdul Fatah terkait dengan percepatan pembangunan jembatan antara Sumatera Selatan dan Bangka Belitung agar segera terwujud dan dapat dimasukkan dalam RPJMN 2020-2024 

"Pembangunan jembatan antara Bangka  dan Sumatera Selatan  perlu  segera dilakukan, maka dari itu agar bisa masuk ke dalam  program strategis nasional pada tahun 2020-2024," tegas Abdul Fatah. 

Selain itu Abdul Fatah menjelaskan dengan adanya jembatan yang menghubungkan Bangka dengan Sumatera Selatan akan mempermudah dari segi distribusi kebutuhan pokok dan kebutuhan pendukung lainnya.

Selain itu Abdul Fatah mengungkapkan dengan keberadaan jembatan nantinya Babel  akan lebih cepat memantau mengenai masalah kebutuhan pokok dan  persediaan  yang diharapkan.

Akhirnya Gubernur Erzladi dan Wagub Abdul Fatah berharap  semoga apa yang disampaikan pada konsultasi rancangan awal ini dapat dimasukkan ke dalam rancangan teknokratik RPJMN 2020-2024. 

Sebelumnya Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional /Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menyampaikan dalam sambutannya terkait dengan show case kebutuhan regulasi pada  pengembangan Major Project Tanjung Kelayang, bahwa potensi yang dimiliki Tanjung Kelayang sebagai penerapan 10 destinasi pariwisata prioritas 2020 - 2024 terdapat rekomendasi yang disampaikan oleh kementerian perencanaan dan pembangunan. 

"Rekomendasi pembangunan Tanjung Kelayang harus berlandaskan prinsip eco tourism  dan cultural heritage sebagai simbol kearifan lokal serta diperlukannya perda khusus yang mengatur pemeliharaan lingkungan hidup berkelanjutan dan tanggung jawab perusahaan (CSR) pada sektor pariwisata", jelas Bambang Brodjonegoro. 

 

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Sentosa
Fotografer: 
Sentosa