Pemprov Cari Solusi Melambatnya Ekonomi di Babel

Pangkalpinang – Melambatnya kondisi perekonomian yang dipicu dari berbagai sektor mendorong Pemerintah Provinsi Kep Babel segera melakukan percepatan dalam  pengendalian perekonomian masyarakat. Untuk mencari solusi permasalahan tersebut  Pemerintah Kabupaten/Kota serta instansi terkait juga dilibatkan.
 
“Dari data BPS Bangka Belitung pada Juli 2015, angka inflasi  mencapai 3,18 persen. Ini menjadikan Pangkalpinang menjadi daerah termahal se Indonesia," hal tersebut diungkapkan Amrullah Harun, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakya Setda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat membuka Rapat Koordinasi Penyelenggaraan Pemerintahan Umum dalam Pengendalian Perekonomian Masyarakat di Ruang Pertemuan Resto Pagi Sore, Kamis (17/9/2015).
 
Selain itu disinggung Amrullah lonjakan harga yang terjadi di ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalahkan daerah terpencil seperti Papua, dan pedalaman Kalimantan.
 
“Padahal infrastruktur di pedalaman Kalimantan dan Papua masih tertinggal jauh dibandingkan dengan kota Pangkalpinang. Dimana sebelumnya Belitung juga pernah menjadi daerah termahal pada tahun 2014," ungkapnya.
 
Menurut Amrullah melambatnya kondisi perekonomian Bangka Belitung tidak hanya dipicu oleh harga jual logam timah yang rendah. Tapi usaha pertanian yang biasanya menjadi penyeimbang juga mengalami penurunan.
 
“Harga karet dan minyak mentah Kelapa Sawit (crude palm oil) juga turun harga," katanya.
 
Lebih jauh dampak dari kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Tarif Dasar Listrik (TDL) juga menjadi pemicu. Selain itu pelarangan paket meeting di hotel mempengaruhi rendahnya penyerapan anggaran pemerintah daerah. Dan penurunan Net ekspor antar daerah dan pengeluaran konsumsi pemerintah juga memberikan dampak, papar Amrullah.
 
Perekonomian di Bangka Belitung dijelaskan Amrullah pada triwulan I tahun 2015 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp. 14.722 miliar. Sementara PDRB atas dasar konstan 2010 besarnya mencapai 201 miliar.
 
“Pada triwulan I tahun 2015 jika dibandingkan triwulan I tahun 2014 tumbuh sebesar 4,10 persen. Sementara jika dibandingkan triwulan sebelumnya terkontraksi sebesar 0,48 persen merupakan kondisi triwulan terendah sejak tahun 2010," jelasnya.
 
Amrullah juga mengharapkan dengan rapat koordinasi ini dapat memberikan solusi guna mencapai keterpaduan baik dari perencanaan maupun dalam pelaksanaan program kerja di instansi terkait baik di Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota.
 
Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Fajrina Andini
Fotografer: 
Suci Lestari