Peneliti UGM Mengembangkan Lada Varietas Petaling 1

Pangkalpinang – Pemerintah terus mencari formula tepat untuk mengembalikan kejayaan lada putih (Muntok White Pepper). Pasalnya lada Bangka Belitung memiliki kekhasan dari aroma dan pedasnya. Selain itu, lada putih sangat disukai masyarakat eropa. Untuk menghasilkan kualitas bibit unggul, lebih tahan penyakit dan berproduksi banyak, pemerintah menggandeng peneliti Universitas Gajah Mada (UGM).

"Kerja sama ini diharapkan dapat dihasilkan rekomendasi dan bibit unggul agar percepatan revitalisasi lada segera terwujud," kata Rustam Effendi Gubernur Kepulauan Bangka Belitung saat bertemu Tim Lada UGM di ruang Rapat Tanjung Pendam, Kantor Gubernur, Pangkalpinang, Senin (5/9/2016).

Tanggal 17 Mei 2016 lalu, pemerintah provinsi dan UGM sudah menandatangani nota kesepahaman (MoU) tentang kerja sama penelitian pengembangan lada putih. Gubernur menjelaskan, MoU tersebut diharapkan dapat membantu petani lada. Karena saat ini banyak petani frustasi karena ladanya diserang penyakit kuning, sehingga menyebabkan gagal panen.

"UGM bisa menghasilkan bibit sehat. Bibit ini akan disebarkan kepada petani dengan cara subsidi, agar produksi lada petani meningkat. Produksi meningkat membuat kesejahteraan petani meningkat dan rasa frustasi petani pun hilang. Jika produksi lada meningkat, tidak menutup kemungkinan ke depan dibangun industri hilir lada. Lada dijual dalam bentuk bubuk," jelas Rustam.

Sementara Prof Bambang Hadisutrisno mengatakan, produksi lada putih Bangka Belitung dari tahun ke tahun terus meningkat, begitu juga dengan produksi lada Indonesia. Namun saat ini produksi lada Indonesia masih di bawah Vietnam. Tahun 2013, produksi lada dari Bangka Belitung mencapai mencapai 31.195 ton

Jumlah produksi lada Bangka Belitung paling besar di antara provinsi-provinsi lain di Indonesia. Ia menambahkan, jumlah produksi lada tahun 2012 untuk seluruh Indonesia mencapai 75.000 metrik ton. Sedangkan jumlah produksi lada Vietnam 120.000 metrik ton. Namun lada putih Bangka Belitung sangat khas, sehingga diminati masyarakat eropa.

“Untuk meningkatkan produksi lada Bangka Belitung, sangat diperlukan bibit yang sehat, tahan dari penyakit. Sangat mutlak diperlukan kebun induk sebagai sumber benih sehat. Benih sehat diperoleh dari sumber benih sehat, bukan dari stek lada yang tidak sehat," ujar Bambang.

Tim lada UGM sudah mengembangkan bibit lada jenis Petaling 1. Ia menjelaskan, lada jenis Petaling merupakan lada khas Bangka Belitung. Lada ini telah dicoba dibibitkan dari sumber yang sehat. Bibit yang dihasilkan nanti merupakan bibit yang sudah dibekali dengan agen pengendali hayati. Sekarang bibit lada Petaling 1 berumur tiga bulan 12 hari, memiliki empat hingga tujuh daun dan ruas.

Media tanam lada jenis Petaling 1 ini di tanah steril yang telah diberi agen pengendali hayati unggul. Menurutnya, bibit sudah mengandung jamur mikoriza. Bibit ditempel dengan mikoriza sebagai pupuk hayati, sehingga dapat meningkatkan kemampuan tanaman untuk mengambil unsur hara dari tanah. Jamur mikoriza juga membuat tanaman lada tahan dari serangan penyakit.

“Tujuan jangka pendek kita, menghasilkan bibit sehat serta memberikan pelatihan kepada masyarakat tentang pertanian lada. Sedangkan tujuan jangka panjangnya, membuat kultur jaringan bibit dari kebun induk yang sehat," jelasnya.

Tingkatkan Produksi

Petani lada Bangka didorong untuk terus meningkatkan produksi lada. Sebab Muntok White Pepper merupakan lada yang sangat diminati di negera eropa dengan citra rasa khas dan tidak dimiliki lada dari negara lain.

Dyah Manohara anggota tim lada UGM menyarankan, petani sebaiknya menanam lada varietas Petaling 1, karena merupakan lada memiliki tingkat produksi paling tinggi. Selain itu, ketika menanam lada agar menggunakan tajar –tiang panjat– hidup, sebab konsumen eropa mengharapkan Muntok White Pepper dihasilkan dari lada dengan memakai tajar hidup.

"Hasil penelitian, lada akan tumbuh optimal dan baik jika pencahayaannya sekitar 50 hingga 70 persen. Dengan tajar hidup, lada tumbuh dengan baik dan tahan lama," kata Dyah.

Sumber: 
Diskominfo Babel
Penulis: 
Surianto
Fotografer: 
Adi Tri Saputra
Editor: 
Huzari | Adi Tri Saputra