Pentingnya Daya Kritis Masyarakat Tangkal HOAX 

Saat ini, masyarakat memiliki peran utama dalam menangkal hoax. Kenapa? Karena masyarakat merupakan tujuan akhir hoax di produksi. Apabila masyarakat memiliki pengetahuan dan daya kritis, hoax yang beredar tidak akan mampu menimbulkan berbagai polemik. Saya tertarik dengan pernyataan Humas Polda Bangka Belitung, Bapak Maladi. Beliau mengatakan bahwa “ Satu peluru hanya mampu membunuh satu orang, tetapi satu berita hoax mampu membunuh ribuan orang”. Itu fakta, kita dapat lihat sejarah bagaimana hoax dapat menyebabkan peperangan, genosida dan konflik yang menyebabkan perpecahan suatu bangsa.  Perang Dunia II merupakan salah satu akibat berita hoax. Jika kita telisik sumbernya, dahulu hoax diproduksi oleh media cetak maupun media elektronik. Hal ini dikemukakan oleh Ryan Holiday penulis buku “ Trust Me I am Lying” . Beliau dengan berani mengutarakan fakta-fakta pemberitaan di media. Beliau mengaku sebagai salah satu manipulator media. Saat itu, perkembangan media mainstream belum seperti saat ini. Saat ini, media mainstream memungkinkan setiap orang untuk memproduksi berita tanpa harus melalui proses jurnalistik. Hal inilah yang mengakibatkan orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu, memanfaatkan peluang untuk memproduksi hoax.  
Perkembangan hoax saat ini mengalami perkembangan yang sangat cepat. Perkembangan ini, dipicu oleh perkembangan teknologi informasi. Perkembangan teknologi kini tidak disertai dengan kesiapan literasi bagi penggunanya. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang dimana teknologi khususnya teknologi informasi menjadi salah satu dasar pengembangan di berbagai sektor tidak terlepas dari hoax. Fenomena hoax terjadi di era teknologi saat ini, dimana masyarakat memiliki kemudahan dalam mengakses berbagai macam jenis informasi di berbagai media. Perkembangan teknologi semakin canggih setiap tahunnya yang  menyebabkan banyak hal positif maupun negatif sebagai efek perkembangan itu sendiri. Berbagai macam jenis informasi yang di akses justru menjadikan masyarakat mudah tertipu dengan kabar-kabar angin alias hoax yang keberadaannya sekarang cukup sulit untuk dibedakan, mana yang asli, mana yang palsu.
Hoax adalah istilah yang mengambarkan suatu berita bohong, fitnah atau suatu aktivitas menipu. Chen (2014), menyatakan hoax adalah informasi sesat dan berbahaya karena menyesatkan persepsi manusia dengan menyampaikan informasi palsu sebagai kebenaran. Hoax mampu mempengaruhi banyak orang dengan menodai suatu citra dan kredibilitas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hoax adalah berita bohong. Dalam Oxford English dictionary, hoax didefinisikan sebagai malicious deception atau kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat (KBBI dan Oxford English Dictionary).
Berita palsu atau hoax yang saat ini menjadi fenomena, memunculkan kekhawatiran disetiap kalangan. Banyaknya efek yang terjadi akibat dari berita hoax tersebut kemudian menimbulkan keresahan di masyarakat. Banyak faktor pendukung tersebarnya berita hoax pun menyebabkan semakin parahnya berita hoax yang diterima masyarakat. Akibatnya berita hoax membuat masyarakat menjadi curiga dan bahkan membenci kelompok tertentu, menyusahkan atau bahkan menyakiti secara fisik orang yang tidak bersalah, memberikan informasi yang salah kepada pembuat kebijaksanaan. Kepercayaan terhadap berita hoax kemudian menjadikan masyarakat tidak cerdik dalam menerima berita tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.Tujuan dari penyebar berita hoax adalah membuat kekacauan, kegelisahan, rasa benci, dan bahkan juga rasa ketakutan bagi pembacanya. Dampak yang ditimbulkan adanya berita hoax akan sangat luar biasa antara lain, berupa dampak sosial,ekonomi, politik, keamanan dan yang lebih besar adalah bisa mengancam keutuhan negara.
Konten berita hoax biasanya berisi hal negatif yang bersifat hasut dan fitnah. Hoax akan menyasar emosi masyarakat, dan menimbulkan opini negatif sehingga terjadi disintergratif bangsa.Hoax juga memberikan provokasi dan agitasi negative, yaitu menyulut kebencian, kemarahan, hasutan kepada orang banyak (untuk mengadakan huru-hara, pemberontakan, dan sebagainya), biasanya dilakukan oleh tokoh atau aktivitis partai politik, pidato yang berapi-api untuk mempengaruhi massa. Hoax juga merupakan propaganda negative, dimana sebuah upaya yang disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan mempengaruhi langsung perilaku agar memberikan respon sesuai yang dikehendaki oleh pelaku propaganda. (Pontoh : 2017)
Penyebaran berita hoax sering terjadi di media sosial dan mempengaruhi pola pikir masyarakat. Bebasnya akses dalam membuat akun media sosial membuat banyak orang yang tidak bertanggung jawab menciptakan akun – akun palsu yang kemudian digunakan untuk menyebarkan berita hoax ke masyarakat. Alasan terciptanya akun – akun palsu itu didasari dengan mudahnya masyarakat terpengaruh oleh suatu berita yanpa mencari tahu kebenaran akan berita tersebut dan menjadi salah sasaran yang kemudian menimbulkan permasalahan.
Fenomena hoax yang terjadi saat ini banyak ditemukan pada media sosial. Penggunaan media sosial yang sebagai media informasi sudah mulai meresahkan masyarakat dengan adanya informasi hoax yang tersebar secara bebas. Penyebaran berita atau informasi hoax didukung dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih. Tetra Pak Index dalam Yudhianto (2017) mencatat ada sekitar 132 juta pengguna internet di Indonesia pada tahun 2017, angka ini lumayan meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2016, kenaikan pengguna internet di Indonesia berkisar 51% atau sekitar 45 juta pengguna, dengan pertumbuhan pengguna aktif media sosial sebesar 34 %. Dari jumlah pengguna internet tersebut, 129,2 juta pengguna memiliki akun media sosial yang aktif dan pengguna internet rata – rata menghabiskan waktu sekitar 3 jam per hari untuk komsumsi interenet melalui telepon selular. (Dewangga: 2017)
Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) melakukan survei mengenai wabah hoax nasional. Survei ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang persepsi masyarakat terhadap hoax, penyebarannya, klasifikasi dan dampaknya kepada kehidupan berbangsa secara nasional. Responden yang mengikuti survei ini terdiri dari beragam responden. Responden berumur 15 – 40 tahun, berprofesi sebagai, pelajar/mahasiswa, professional/karyawan, wiraswasta dan tidak bekerja. 
84,50%    Masyarakat terganggu dengan berita hoax
75,90%    Berita hoax menganggu kerukunan bermasyarakat
70,90%    Berita hoax dapat menghambat pembangunan di indonesia
54,10%    Berita hoax didapat dari sumber berita yang tidak jelas
54%    Masyarakat ragu – ragu apakah berita tersebut benar atau palsu
91.80 %    Berita hoax mengenai sosial politik (pilkada, pemerintahan)
44,30%    Masyarakat menerima berita hoax setiap hari
Tabel 1 Survei Mastel Mengenai Wabah Hoax

Menurut Hasan (2018) terdapat faktor – faktor  pendukung yang mengakibatkan semakin parahnya berita hoax yang diterima masyarakat. Kepercayaan terhadap berita hoax kemudian menjadikan masyarakat tidak cerdik dalam menerima berita tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.Menurut kaca mata psikologi, salah faktor yang menyebabkan berita-berita hoax kemudian gampang dipercaya masyarakat serta begitu leluasa merajalela, disebabkan karena seseorang memang cenderung lebih gampang percaya akan sebuah berita yang sesuai dengan opini atau sikap yang dimilikinya.
Orang yang menyebarkan informasi palsu atau hoax di dunia maya akan dikenakan hukum positif. Hukum positif yang dimaksud adalah hukum yang berlaku. Maka, penebar hoax akan dikenakan KUHP, Undang-Undang No.19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Undang-Undang No.40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, serta tindakan ketika ujaran kebencian telah menyebabkan terjadinya konflik sosial.Sesuai dengan pasal yang disebutkan diatas terlihat pemerintah mengambil langkah tegas untuk menghukum siapapun yang menyiarkan berita kebohongan (hoax). Program – program yang dijalankan pemerintah dalam meminimalisir berita hoax sudah banyak yang bisa diterapkan. Juga, program non pemerintah yang dilakukan oleh individu atau organisasi pun mudah ditemukan.
Salah satu cara yang tepat bagi masyarakat dalam menyaring informasi hoax di media sosial adalah dengan menjalankan literasi media. Beragam definisi tentang literasi media telah dikemukakan oleh banyak pihak. Potter (2008)  menyatakan bahwa literasi media adalah seperangkat perspektif yang kita gunakan secara aktif saat mengakses media massa untuk menginterpretasikan pesan yang kita hadapi. Literasi media berhubungan dengan bagaimana khalayak dapat mengambil kontrol atas media. Literasi media merupakan skill untuk menilai makna dalam setiap jenis pesan, mengorganisasikan makna itu sehingga berguna, dan kemudian membangun pesan untuk disampaikan kepada orang lain.
Tujuan dasar media literasi ialah mengajar khalayak dan pengguna media untuk menganalisis pesan yang disampaikan oleh media massa, mempertimbangkan tujuan komersil dan politik di balik suatu citra atau pesan media, dan meneliti siapa yang bertanggungjawab atas pesan atau idea yang diimplikasikan oleh pesan dalam berita. Literasi media menjelaskan mengenai bagaimana cara memahami, mengakses, mengevaluasi, dan memproduksi. Memahami disini adalah bagaimana masyarakat dapat memilih jenis informasi yang mereka inginkan. Banyaknya informasi yang dengan mudah didapatkan menjadikan masyarakat harus dapat memilih secara baik sesuai dengan yang dibutuhkan. 
Setelah memilih masyarakat kemudian dapat mengakses informasi sesuai dengan yang mereka inginkan. Mengakses yang digunakan bisa dimaknai sebagai kemampuan khalayak dalam mencari, mendapatkan, dan mengumpulkan informasi. Akses didefinisikan baik sebagai akses secara fisik maupun pada kemampuan untuk menggunakan berbagai macam bentuk media, Akses media saat ini bukan lagi hambatan, apalagi untuk khalayak yang tinggal di perkotaan. Akses terhadap media dapat ditemukan kapan saja dan dimana saja. Namun itu berarti juga bahwa paham yang menghegemoni lebih mudah dan cepat tersebar.
Dalam literasi media setelah mengakses kita harus dapat menganalisi informasi. Analisis merupakan kemampuan yang dapat membantu seseorang dalam menjelaskan bentuk pesan, struktur, segmen, dampak pesan, dan lain sebagainya. Analisis berkaitan dengan kemampuan untuk mencari, mengubah, dan memilih informasi disesuaikan dengan kebutuhan individu. Analisis merupakan aspek kompetensi personal lainnya selain kemampuan mengakses. Kemampuan ini lebih kepada melihat dari pemahaman kritis pengguna media. Sisi ini lebih melihat dan menekankan kemampuan pemahaman dan interpretasi mahasiswa dalam melihat, membaca dan mendengarkan produk media yang tersaji.
Evaluasi dibutuhkan selanjutnya setelah informasi dianalisis sesuai dengan kemampuan personal. Evaluasi adalah kemampuan untuk menghubungkan antar pesan media yang diterima dengan pengalaman. Mengevaluasi informasi berdasarkan parameter, seperti kebenaran, kejujuran, dan kepentingan dari produsen pesan. Jadi, dengan mengevaluasi menyadarkan bahwa khalayak tetap memiliki hak prerogratif dalam memaknai pesan media untuk dirinya sendiri. 
Terakhir adalah kegiatan memproduksi. Memproduksi pesan sebagai bagian dari kreativitas pesan adalah kemampuan seseorang menyusun pesan atau ide dengan kata-kata, suara, atau imej secara efektif sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu komunikasi. Menciptakan media berkaitan dengan produksi dan distribusi isi media, juga berkaitan dengan kompetensi komunikatif.
Pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif diharapkan selalu lahir dari pola pikir di masyarakat. Masyarakat harus mampu melihat fakta yang ada dalam berita, apakah sudah memakai sumber yang memiliki kredibilitas dan disebutkan, serta memahami tujuan yang asli  dan mendasar. Dengan begitu masyarakat mampu membangun sikap kritis saat menerima pesan hoax dan selektif ketika menerima pesan maupun berita. Sikap kritis harus dibangun dalam diri sehingga menjadi  langkah positif agar masyarakat tidak terpengaruh maupun terprovokasi dengan segala berita yang memuat postingan yang mengandung kebencian maupun menyudutkan kelompok tertentu. Masyarakat harus lebih teliti dalam menerima berita hoax dan menjadikan diri mereka sebagai salah satu penggerak dalam menanggulangi berita hoax. Kita perlu menyeleksi hal apa saja yang penting dan perlu untuk dipublikasikan. Merubah kebiasaan pada diri sendiri dengan cara lebih bijak dalam menerima informasi kemudian menyebarkan kebiasaan baik tersebut kepada lingkungan kita.

Penulis: 
Imelda Ginting
Sumber: 
Imelda Ginting

Artikel

17/09/2020 | Dinas Lingkungan Hidup
11/08/2020 | Pengendali Dampak Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
17/07/2020 | Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutan RI

ArtikelPer Kategori