Petani Idamkan Persawahan Ideal

Jebus – Petani di Desa Pebuar, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat mengharapkan pemerintah membantu mengolah lahan menjadi petak sawah ideal. Pasalnya untuk mengolah lahan menjadi sawah ideal membutuhkan waktu sekitar tiga tahun. Selain itu penyuluh di wilayah tersebut mengharapkan ada transfer ilmu pertanian sawah. Selama ini penyuluh hanya dibekali ilmu pengetahuan di bidang perkebunan.

Jumli Ketua Kelompok Tani Bukit Mempari Sejahtera mengatakan, pembuatan lahan persawahan di Desa Pebuar telah dilakukan sekitar tahun 2013 lalu. Selanjutnya, di tahun 2014 masyarakat petani sudah mulai menanam padi. Namun proses penanaman padi ketika itu masih menggunakan sistem tugal. Hal ini dikarenakan kondisi lahan masih keras, belum berlumpur seperti sekarang.

“Kita ingin mengembangkan lahan persawahan, namun kondisi lahan persawahan tersebut baik untuk melakukan tanam padi sistem tandur,” harapnya saat saat Temu Lapangan/Temu Wicara Kegiatan Penyuluhan Pendamping Pertanian dan Pelaku Agribisnis tahun 2015, di Desa Pebuar, Kecamatan Jebus, Selasa (9/6/2015).

Lain halnya disampaikan Fikri Penyuluh di Desa Pebuar. Ia mengharapkan pemerintah memberikan pengetahuan melalui diklat mengenai sistem atau cara menanam padi di persawahan. Pengetahuan mengenai pertanian sawah masih terbatas, sedangkan minat masyarakat bertani di sawah cukup tinggi. Selama ini penyuluh dibekali ilmu pengetahuan tentang perkebunan sawit dan karet.

“Ilmu untuk perkebunan sawit dan karet sudah cukup baik. Namun kita tetap berusaha dengan membuat sawah percontohan. Kendalanya mengenai dana, sebab untuk membuka petak sawah membutuhkan dana sekitar Rp12 juta. Walaupun sebenarnya, jika dua kali panen dalam setahun sudah balik modal,” ungkapnya.

Menjawab pertanyaan tersebut, Hibson Effendy Sekretaris Badan Koordinasi Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjelaskan, untuk membuat lahan persawahan menjadi baik membutuhkan waktu sekitar lima tahun. Tahun pertama panen maksimal menghasilkan padi sekitar satu ton. Kendati demikian petani harus tetap semangat, jangan menanam padi menggunakan sistem lama.

“Dulu ada yang namanya 4T yaitu, tebas, tunu, tanam, tinggal. Ini jangan lagi dilakukan. Sedangkan bagi penyuluh yang ingin menambah ilmu pengetahuan, silahkan berkoordinasi dengan pihak provinsi,” kata Hibson.

Toni Batubara Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menambahkan, jika lahan persawahan masuk program upaya khusus (upsus) untuk optimalisasi lahan, pemerintah akan memberi bantuan tambahan modal Rp1,2 juta per hektare. “Jadi ada bantuan dana untuk mengelola lahan persawahan tersebut,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Zuhri Syazali Bupati Bangka Barat. Ia mengatakan, semua program yang ingin dijalankan harus masuk rencana kerja pemerintah. Sudah pernah mengumpulkan penyuluh guna meminta masukan atau usulan untuk pengembangan kawasan pertanian. Jika kegiatan terencana, terjadi percepatan pertumbuhan signifikan. Setelah usulan masuk ke RPJMD kabupaten, selanjutnya disinkronkan dengan program pemerintah provinsi.

Sedangkan untuk meningkatkan kemampuan penyuluh, jelasnya, ada tiga hal mesti diperhatikan. Pertama kompetensi, kedua sarana prasarana dan ketiga insentif dan kesejahteraan. Sedangkan untuk pengembangan lahan persawahan, hendaknya tidak hanya mengandalkan dana dari pemerintah pusat. Ada baiknya pemerintah provinsi juga mengalokasikan dana.

“Saya rasa penyuluh setuju dengan tiga hal ini. Jika semua itu terpenuhi persoalan selesai. Saya juga menunggu masukan dan usulan dari penyuluh untuk mengembangkan pertanian,” tegasnya.

Menanggapi persoalan ini, Noviar Ishak Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kepulauan Bangka Belitung membenarkan susah untuk mengubah mental masyarakat dari perkebunan menjadi petani di lahan persawahan. Sebab zaman dulu petani Bangka Belitung menanam padi bukan di sawah, tapi di ladang (huma).

"Sawah yang ada saat itu juga bukan sawah dengan irigasi teknis, tetapi masih pasang surut. Sangat tergantung curah hujan," jelasnya.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Rizky | Huzari
Fotografer: 
Rizky
Editor: 
Huzari