Revolusi Mental Membangkitkan Semangat Disiplin

Subang – Peserta Diklat Revolusi Mental di Kampus Pembangunan Karakter Bangsa Indonesia, Subang, Provinsi Jawa Barat mendapat pendidikan ala militer. Pendidikan ini dilakukan guna membangkitkan semangat disiplin. Kedisiplinan semakin teruji dengan ketepatan waktu sarapan, senam, upacara hingga baris berbaris.

Pantauan Babelprov.go.id di lokasi diklat, sekitar pukul 05.00 WIB peserta mulai melakukan aktivitas senam pagi. Setelah senam kemudian peserta kembali ke barak (kamar) untuk mandi dan mengganti seragam. Kemudian sekitar pukul 06.15 WIB, peserta bersiap sarapan pagi bersama di gedung Mensa.

Sebanyak 65 pejabat dikirim Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai peserta. Dari jumlah peserta tersebut dibagi menjadi empat regu, dan setiap regu dipimpin satu danton. Setelah dilakukan pembagian regu, terdapat empat regu.

Mengenai tempat beristirahat, peserta ditempatkan di barak yang terdapat tempat tidur bertingkat dua, berisi dua kasur tanpa kamar mandi dan wc. Sebab kamar mandi dan wc berada di luar barak. Setiap barak diisi sekitar 14 orang peserta diklat.

Makanan peserta diberikan lauk pauk sepotong daging rendang kecil, satu irisan goreng tempe, tumis pucuk ubi dan segelas susu coklat. Tanpa berlama-lama, sekitar pukul 07.00 WIB peserta kemudian melanjutkan upacara pengibaran bendera di lapangan upacara Nusantara kampus tersebut.

Sekitar seminggu peserta akan menjalankan aktivitas serupa, terhitung tanggal 26 April hingga 1 Mei 2015. Pasalnya peserta diklat revolusi mental angkatan VI  akan ditempa dengan berbagai tata cara militer, mulai dari pakaian, sarapan, tidur, kegiatan baris berbaris, senam dan upacara.

"Karakter bangsa Indonesia hebat. Revolusi mental, kerja, kerja, kerja! Bangsa Indonesia, hebat, merdeka, merdeka!” teriak Mayjen (Purn) Adang Sondjaja, Sekjen Lembaga Pendidikan Revolusi Mental saat menjadi pembina upacara.

Ia menekankan, jangan sampai pelatihan revolusi mental pembangunan karakter bangsa menjadi cibiran orang-orang yang kurang berkenan dilatih. Revolusi mental merupakan program nawa cita dari pimpinan, yaitu pembangunan karakter bangsa. Ada lima program di antaranya melatih dan memberi pencerahan kepada para aparatur sipil negara.

“Selamat datang, artinya selamat melaksanakan aturan-aturan yang telah digariskan,” tegasnya.

Mengenai aturan akan disampaikan dan diaplikasikan pelatih. Ia menambahkan, saat mengikuti diklat ada aturan di ruang kelas, ruang makan dan tata cara berjalan. Contohnya, waktu makan tidak boleh ngobrol supaya makanan dinikmati. Ini perintah langsung dari pimpinan. Selain itu peserta tidak boleh merokok sambil jalan, di ruang kelas hingga ruangan istirahat.

“Dalam ruangan istirahat menggunakan pakaian tertutup. Selain itu harus membereskan dan membersihkan ruang istirahat, mulai dari merapikan tempat tidur dan seprai. Pelatih akan memberi pengarahan, dan menjadi pelatih harus cerewet,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan provinsi pertama di Indonesia yang mengirimkan pejabatnya untuk mengikuti diklat revolusi mental. Ia menyarankan, saat penyusunan anggaran perlu menonjol bidang kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum dan lingkungan hidup.

“Jaga kesehatan. Jangan ada yang memaksakan diri, kalau kurang sehat lapor kepada pelatih. Kalau makanan kurang cocok laporkan, jangan sampai ada pemaksaan sehingga membuat hidup menjadi tertekan,” kata Adang.

Sementara Dodo salah satu pelatih menjelaskan, baris berbaris merupakan langkah membentuk watak supaya bisa disiplin dan membuat mental menjadi kuat dan loyal. Jadi siapapun pemimpin harus selalu siap. Selain PBB, ada penghormatan yang merupakan penghargaan seseorang terhadap orang lain atas dasar tata susila.

"Tujuannya supaya loyal. Loyal itu ke atas, ke bawah, ke samping kiri dan kanan. Jadi bukan hanya loyal ke atas saja. Pimpinan juga harus loyal kepada bawahan di bidang apapun," tegasnya.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Adi Tri Saputra | Rizky
Fotografer: 
Rizky
Editor: 
Huzari