Sekda : TPID harus Tekan Inflasi


Pangkalpinang - Inflasi sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Inflasi dan kesinambungan pasokan pangan harus jadi perhatian serius pemerintah agar daya beli masyarakat tetap terjaga, kata Sekda Provinsi Kep Babel Syahrudin saat membuka Rakor Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi di Ruang Rapat Tanjung Pesona Kantor Gubernur, Rabu (24/12/14). 
Syahrudin menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, diperlukan pengendalian terhadap kenaikan harga-harga secara umum atau inflasi sehingga akan berdampak positif terhadap kondisi sosial ekonomi daerah, karena tetap terjaganya daya beli masyarakat.
“Mengingat arti penting inflasi yang terkendali, maka Pemerintah Kep Babel selalu melakukan koordinasi dan antisipasi, baik secara internal oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang membidangi, maupun bersama instansi vertikal dan badan usaha di wilayah Babel untuk bersama-sama mengelola gejolak harga terutama dipengaruhi oleh sisi penawaran yang berkenaan dengan gangguan produksi, distribusi, maupun kebijakan pemerintah seperti pengurangan bbm bersubsidi,” jelasnya.
Menurutnya diversifikasi bidang pertambangan dan perikanan harus segera dilakukan. Harus ada nilai tambah dari produk yang dihasilkan daerah, salah satunya adalah dengan mendirikan industri hilir dan memperluas lahan-lahan pertanian serta meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan oleh masyarakat.
“Walaupun secara de-facto Tim-tim yang terbentuk dan sudah bekerja untuk menangani, memonitor, atau mengawasi gejolak harga-harga dimaksud  telah eksis beberapa tahun yang lalu, dan sebagai upaya guna lebih mengefektifkan dan mengkoordinasikannya, maka Provinsi Kep. Babel telah membentuk Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi melalui Keputusan Gubernur Kep. Babel Nomor 188.44/014/III/2014,” terangnya.
“Sehingga secara de-facto diharapkan akan lebih memperjelas dan mempertegas tugas dan fungsi, serta peranan TPID untuk ikut menjaga ketersediaan pasokan bahan pokok terutama pangan, dan kelancaran distribusinya, mengelola dampak kenaikan harga, serta mampu memberikan rekomendasi kebijakan yang diperlukan,” tutup Syahrudin.
Sementara itu Perwakilan BI Babel Bayu mengatakan bahwa Tim ini bersifat koordinatif, dan dalam forum ini kita bisa selaraskan program kerja. 
Perwakilan BI Babel Bayu menjelaskan inflasi rendah dan stabil merupakan prasyarat pertumbuhan ekonomi berkesinambungan. Pada Bulan November 2014 Kep Babel mengalami inflasi sebesar 7,11 persen (years or the years). Inflasi IHK diprediksi meningkat dengan besaran on the track dengan proyeksi 1,97 persen pada Desember dikarenakan lesunya prekonomian, faktor cuaca dan adanya natal.
Lebih jauh, Perwakilan BI Babel Bayu mengatakan Inflasi babel hampir selalu diatas nasional, namun ini masih terkendali. Respon terhadap gejolak dibabel sangat tinggi dan Ketergantungan bahan pangan dari luar babel menjadi faktor yang mempengaruhi inflasi dibabel. Atau bisa dikatakan sangat dipengaruhi oleh kondisi provinsi sekitar.
"Inflasi tinggi akan pengaruhi suka bunga. Dan untuk itu kita butuh road map pengendali inflasi daerah agar mampu menjaga stabilitas perekonomian daerah," harap Perwakilan BI Babel Bayu.
Sementara itu Kadis Perhubungan Babel mengatakan masalah bongkar muat yang masih lambat karena terpengaruhi oleh pasang surut air laut ikut mempengaruhi harga barang pokok. (*an/adits).
 

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Surianto
Fotografer: 
Adi Tri Saputra
Editor: 
Surianto