Tanjung Pandan Deflasi 1,95 persen

Pangkalpinang – Oktober, Tanjung Pandan alami deflasi sebesar 1,95 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 127, 18. Deflasi Oktober terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya IHK pada kelompok bahan makanan sebesar 6,07 persen.

“Air, listrik, gas, bahan bakar menyumbang sebesar 0,06 persen. Sedangkan transpor, komunikasi dan jasa keuangan menyumbang sebesar 1,11 persen," ungkap Herum Fajarwati Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat Konferensi Pers di Kantor BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Senin (02/11/2015).

Lebih jauh Herum menjelaskan beberapa kelompok mengalami peningkatan indeks. Makanan jadi, minuman, rokok, tembakau menyumbang sebesar 0,02 persen. Sedangkan kelompok sandang menyumbang sebesar 0,09 persen. Untuk kelompok kesehatan menyumbang sebesar 0,27 persen, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga juga turut menyumbang sebesar 0,21 persen.

“Tingkat inflasi Januari – Oktober 2015 sebesar 0,28 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun Oktober 2015 terhadap Oktober 2014 sebesar 5,15 persen," paparnya.

Kelompok berikutnya yang memberikan sumbangan deflasi pada Bulan Oktober dikatakan Herum dari kelompok bahan makanan sebesar 1,83 persen. Untuk kelompok perumahan, air, listrik, gas, bahan bakar juga memberikan andil sebesar 0,02 persen. Dan kelompok transportasi, keuangan, komunikasi dan jasa keuangan turut menyumbang sebesar 0,13 persen.

Sedangkan kelompok yang memberikan sumbangan inflasi dari kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,004 persen. Kelompok sandang turut menyumbang sebesar 0,01 persen. Untuk kelompok kesehatan menyumbang 0,01 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga ikut menyumbang sebesar 0,01 persen.

“Sawi hijau, Apel, Wortel, Anggur, Melon, Bubur, sepatu anak-anak, sepatu olah raga pria, sepatu olah raga wanita dan obat flu mengalami peningkatan harga pada Oktober 2015”, ungkap Herum.

Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga dijelaskan Herum seperti daging ayam ras, ikan kembung, cabai rawit, kangkung, angkutan udara/tarif pesawat, kepiting rajungan, ikan tongkol dan ikan selar.   

Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari presentase perubahan IHK dan diumumkan ke masyarakat setiap awal bulan, pada hari kerja pertama oleh Badan Pusat Statistik.

Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya daerah perkotaan.

Pada Januari 2014 pengukuran inflasi di Indonesia menggunakan IHK tahun dasar 2012=100. Ada beberapa perubahan yang mendasar dalam penghitungan IHK baru (2012=100) dibandingkan IHK lama (2007=100), khususnya mengenai cakupan wilayah, paket komoditas, dan diagram timbang.

Perubahan tersebut didasarkan pada Survey Biaya Hidup (SBH) 2012 yang dilakukan BPS, yang merupakan salah satu bahan dasar utama dalam perhitungan IHK. Hasil SBH 2012 sekaligus mencerminkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat dibandingkan dengan hasil SBH sebelumnya.

SBH 2012 dilaksanakan di 82 kota, terdiri dari 33 ibukota provinsi dan 49 kota besar lainnya. Dari 82 kota tersebut, 66 kota merupakan cakupan kota SBH lama dan 16 merupakan kota baru.

Survey ini hanya dilakukan di daerah perkotaan (urban area) dengan total sampel sebanyak 13.608 Blok sensus dan total sampel rumah tangga sebanyak 136.080. SBH 2012 dilaksanakan secara triwulan selama 2012 sehingga setiap triwulan terdapat 34.020 sampel rumah tangga.

 

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Fajrina Andini
Fotografer: 
Suci Lestari