Wagub Bangga Terhadap Semangat Perang Ketupat

Tempilang – Hidayat Arsani Wakil Gubernur Kepulauan Bangka Belitung bangga terhadap semangat pelaksanaan sedekah ruah dan perang ketupat di Desa Tempilang, Kabupaten Bangka, Minggu (7/6/2015). Kendati kondisi perekonomian sedang lesu, tak menurunkan semangat masyarakat untuk melaksanakan tradisi leluhur tersebut.

Selain itu Wagub berharap sedekah ruah ini bisa membawa kebahagiaan, kemakmuran di Desa Tempilang. Walaupun situasi ekonomi sangat lesu, tetapi semangat membangun negeri tidak terhambat. Kerja sama harus tetap eksis dalam membangun Negeri Serumpun Sebalai.

"Saya harap acara ini terus berlanjut meskipun dengan kondisi ekonomi Babel yang lemah. Kita harus tetap semangat, karena semangat tidak bisa diperjualbelikan," tegas Wagub saat acara sedekah ruah dan perang ketupat di Desa Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Minggu (7/6/2015).

Wagub mengibaratkan, meskipun hanya makan jagung kegiatan sedekah ruah tidak boleh mundur dan tetap harus dilaksanakan. Semoga pelaksanaan sedekah ruah ini bisa membawa keberkahan dan kebahagiaan bagi masyarakat Desa Tempilang. Jaga kebersamaan, jangan ada hal merugikan bagi pembangunan negeri.

Sedekah ruah dilaksanakan di semua masjid di Desa Tempilang salah satunya Masjid Jami' Tempilang. Sedangkan perang ketupat dilaksanakan di Pantai Pasir Kuning, Desa Air Lintang, Kecamatan Tempilang.

H Sukirman Wakil Bupati Bangka Barat mengatakan, perang ketupat merupakan simbol masyarakat Desa Tempilang. Kegiatan ini dilakukan untuk membuang hal-hal tidak baik, dan telah menjadi tradisi para pendahulu. Selain itu bertujuan menjalin tali silaturahmi sesuai sunnatullah, sesama masyarakat Tempilang maupun masyarakat di luar Desa Tempilang.

“Kita ambil yang baik-baik dan kubur jauh-jauh yang kurang baik. Perang ketupat merupakan simbol membuang hal-hal yang tidak baik," ucap Sukirman

Sebelumnya Edi Purnomo Kades Tempilang menjelaskan, sedekah ruah merupakan adat silaturahmi masyarakat Desa Tempilang. Kegiatan ini telah dilaksanakan sejak ratusan tahun lalu. Adat ini bukan dibuat-buat, melainkan memang sudah ada dari zaman dahulu. Perang ketupat juga merupakan adat budaya masyarakat yang dilaksanakan bersamaan dengan sedekah ruah.

"Saat ini perang ketupat belum menjadi budaya nasional. Saya berharap ke depan perang ketupat bisa menjadi khasanah budaya Bangka Belitung, sehingga tradisi ini menjadi daya tarik wisata,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Isha Ashadi Camat Desa Tempilang. Ia mengatakan, perang ketupat merupakan salah satu adat budaya masyarakat Desa Tempilang yang harus dijaga dan dilestarikan. Kegiatan ini selalu dilaksanakan dan semua itu karena adanya dukungan pemerintah kabupaten hingga pemerintah provinsi.

"Terima kasih atas dukungan pemerintah kabupaten dan provinsi. Sehingga kegiatan ini terselenggara dengan baik," ujar Isha.

Prosesi Sedekah Ruah dan Perang Ketupat

Masyarakat Desa Tempilang mengantar ‘Nganggung’ makanan ke masjid menggunakan dulang atau rantang.
Masyarakat menabuh beduk sebagai tanda berkumpul di masjid.
Tokoh agama dan pemuka adat mulai melaksanakan acara nganggung dengan membacakan doa selamat.
Masyarakat Desa Tempilang makan bersama di dalam dulang atau rantang.
Usai makan bersama, menampilkan tarian adat desa.
Melakukan prosesi menghanyutkan perahu kecil berisi hasil pertanian dan laut.
Selanjutnya dilaksanakan perang ketupat. (malam hari sebelum pelaksanaan perang ketupat, tokoh adat atau biasa disebut dukun kampung melaksanakan ritual di Benteng Kota, tak jauh dari Pantai Pasir Kuning).
Kelengkapan ritual perang ketupat yakni, ketupat, lepat, ayam, hasil pertanian, perkebunan masyarakat Desa Tempilang.
Perang ketupat dilakukan kelompok darat dan laut. Perang ini diibaratkan perperangan antara masyarakat Desa Tempilang dengan Belanda di masa penjajahan. Kelompok laut perwujudan masyarakat desa, sedangkan kelompok darat penjajah Belanda.
Usai perang ketupat masyarakat dilarang pergi melaut atau menangkap ikan selama tiga hari.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Chandra
Fotografer: 
Adi Tri Saputra
Editor: 
Huzari