Wagub : Etika Berjejaring 'Jarimu adalah Harimaumu'

PANGKALPINANG - Wakil Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Abdul Fatah mengingatkan masyarakat Babel untuk lebih dewasa dan bijak dalam bermedia sosial, mengingat banyaknya gesekan sosial, bahkan kasus hukum, yang menyeret pengguna media sosial (medsos) akibat status mereka.

"Pergunakanlah media sosial kita secara bijak, karena dalam etika berjejaring ada peribahasa jarimu adalah harimaumu," ujarnya saat menjadi narasumber dalam webinar literasi digital dalam meningkatkan wawasan kebangsaan, Rabu (18/8/2021).

Dalam webinar secara virtual tersebut, wagub juga meminta kepada masyarakat untuk tidak terlalu mudah dalam menerima informasi dari media sosial, dibutuhkan literasi digital mengingat media sosial sering disalahgunakan sebagai sarana adu domba. 

"Gunakanlah kata-kata yang baik. Hati-hati dengan jarimu, karena jarimu sekarang bisa menjadi harimaumu. Tutur kata yang baik agar tidak menyakiti yang lain," tambahnya.

Disamping itu, wagub mengatakan bahwa literasi menjadi kunci pembuka dunia, oleh karenanya literasi harus berbasis teknologi digital. Dirinya beranggapan akan sangat tertinggal apabila literasi tidak ditransformasikan dalam teknologi digital mengingat kondisi dunia yang berubah setiap detik.

Untuk itu, Pemprov. Babel sangat mendukung program literasi digital nasional di Babel, karena melalui program tersebut diharapkan masyarakat dapat semakin melek digital. Banyak manfaat yang dirasakan masyarakat apabila melek digital, diantaranya dapat terhindar dari konten hoaks atau berita-berita yang belum jelas kebenarannya, kemudian meningkatnya produktivitas serta daya saing masyarakat dalam perekonomian.

Sebab ke depan, semua aspek kehidupan akan menggunakan digital. Kegiatan ini mau tidak mau harus kita implementasikan, karena kedepan semua aspek kehidupan akan memanfaatkan digital. Dengan digital seluruh urusan akan menjadi lebih efektif, efisien, dan cepat.

Sementara itu, narasumber lainnya Wakil Bupati Belitung, Ishak Meirobie memaparkan bahwa kondisi literasi digital di Indonesia saat ini belum sampai level baik.

Oleh karenanya, dia memaparkan solusi yaitu "KONTEN", yang terdiri dari K (Kebenaran), O (Organisasi), N (Narasi), T (Transformatif), E (Emansipatif), dan N (Nasionalisme).

Sebuah konten menurutnya harus mengandung kebenaran, mengorganisasikan gerakan setiap lapisan masyarakt, mengandung narasi positif, visioner ke arah digital, mendorong untuk meraih hak-hak yang lebih adil dan terbuka, serta perekat kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Budi
Fotografer: 
Iyas Zi
Editor: 
Dini