Warga Australia Napak Tilas Tragedi Perang Dunia II

Pangkalpinang – Australia mempunyai hubungan lama bersejarah dengan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sekitar 75 tahun lalu, ketika berkecamuk perang dunia II ada dua kapal Australia lari dari Singapura dikejar tentara Jepang menuju Muntok. Sejumlah kapal tersebut ditenggelamkan tentara Jepang di sekitar perairan Pantai Tanjung Kalian, Kabupaten Bangka Barat.

Bradley Armstrong, Minister Counsellor (Political dan Public Diplomacy Branch) dari Kedubes Australia di Jakarta mengatakan, terdapat dua kapal tenggelam di sekitar perairan Muntok. Saat kejadian warga Australia mendapatkan bantuan dari warga Bangka Belitung. Tentunya sebagai warga Australia sangat menghargai perlakuan ini dan tidak akan melupakan jasa tersebut.

“Zaman perang penuh dengan kekejaman. Sekitar 60 warga Australia selamat sampai ke pantai dari tragedi tenggelamnya kapal ini. Lalu mereka ditangkap pasukan Jepang. Dari sejumlah warga tersebut, ada 22 perempuan sebagai juru rawat,” jelasnya saat pertemuan di ruang Sekda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Senin (26/9/2016).

Kejadian tersebut tepatnya tanggal 16 Februari. Lebih jauh Ia menjelaskan, semua warga Australia yang tertangkap dipaksa berjalan ke arah laut lalu dibunuh tentara Jepang. Salah satu juru rawat bernama Bullwinkel berhasil selamat, sebab peluru yang menembus tubuh tidak membuatnya meninggal. Kemudian Bullwinkel ditemukan di pantai dalam keadaan pingsan.

Selama tiga tahun setelah ditemukan, Bullwinkel bungkam dan tidak mau menjadi saksi kejadian pembunuhan tersebut. Bradley mengatakan, setelah berakhir perang dunia II, Bullwinkel menceritakan kejadian yang menimpanya. Selanjutnya pelaku kejahatan ini ditangkap dan kemudian harus menjalani peradilan.

“Ini menjadi sejarah penting bagi Australia. Tepat tanggal 16 Februari tahun depan akan memperingati hari kejadian tersebut. Kedatangan hari ini untuk meminta dukungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sehingga pelaksanaan peringatan nanti bisa lancar. Terdapat sekitar 40 hingga 50 warga Australia akan datang ke Muntok,” katanya.

Sejumlah warga Australia ini tinggal selama empat hari hingga dua minggu di Muntok. Bradley menyarankan, kesempatan itu dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan potensi daerah. Sebab jumlah wisatawan Australia ke Indonesia mencapai satu juta per tahun. Rata-rata warga Australia tinggal di Indonesia selama sepuluh hari.

Sekitar Rp20 juta per orang dikeluarkan selama berada di Indonesia. Menurut Bradley, sejumlah uang itu digunakan untuk hotel, makanan, minuman serta semua kegiatan berlibur. Dapat dibayangkan berapa uang beredar jika Rp20 juta dikalikan satu jutaan wisatawan Australia yang datang ke Indonesia. Namun mayoritas kunjungan saat ini masih ke Pulau Bali.

“Sedikit demi sedikit warga Australia melakukan petualangan keliling Indonesia. Untuk mengetahui lebih banyak tentang Indonesia, ada warga Australia berkunjung ke Flores. Kenapa tidak mengunjungi daerah ini, karena saya sudah merasakan keindahan selama berkunjung bersama isteri dan dua anak ke Bangka Belitung,” paparnya.

Noviar Ishak Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengatakan, perjalanan dari Pangkalpinang menuju Muntok membutuhkan waktu sekitar dua jam dengan jarak tempuh 134 kilometer. Kendati terdapat kerusakan di beberapa ruas jalan, namun secara menyeluruh kondisi jalan cukup bagus.

Menyinggung mengenai kapal Australia sisa perang dunia II, menurut Noviar, kerangka kapal masih dapat terlihat di Pantai Tanjung Kalian. Diperkirakan masih tersisa sekitar sepuluh atau 15 persen, sementara bagian kapal lainnya sudah hilang. Terdapat tugu peringatan terletak tak jauh dari pantai. Tanggal 16 Februari 2017 nanti dapat menjadi langkah awal mengangkat kejadian sejarah ini.

“Perjalanan menuju Muntok, bahkan sampai ke Pantai Tanjung Kalian sangat nyaman. Besok pagi pukul 09.00, kami ada acara gemar makan ikan di Pantai Batu Rakit. Itu merupakan acara tingkat provinsi. Ibu dan bapak kami undang. Sedangkan hari ini ada acara memperingati hari Nusantara dengan melakukan bersih-bersih pantai,” jelasnya.

Sumber: 
Diskominfo Babel
Penulis: 
Rizky Fitrajaya/Huzari
Fotografer: 
Rizky Fitrajaya
Editor: 
Huzari | Adi Tri Saputra