Kesehatan Jiwa di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

Covid-19 telah banyak mengubah tatanan kehidupan dunia. Pandemi yang membawa dampak pada seluruh lapisan masyarakat dan berbagai sektor kehidupan. Makhluk mikroskopis ini membawa efek  secara global. Hampir satu tahun kita menghadapinya, beberapa negara telah berhasil melalui pandemi ini bahkan hingga gelombang keduanya dengan bertahap, tapi Indonesia masih dalam masa perjuangan, mengingat angka infeksi yang terus meningkat.

 

Beberapa kebijakan telah diterapkan, dan terus mengalami perubahan. Kebijakan-kebijakan yang selalu  menyesuaikan dengan protokol yang ditetapkan World Health Organization (WHO), dengan tujuan untuk mengurangi penyebaran virus sekaligus mempercepat perbaikan di berbagai sektor. Tapi Indonesia, masih mengalami banyak kesulitan. Mulai dari kebijakanPembatasan Sosial Berskala Besa (PSBB) kemudian New Normal. Beberapa daerah sudah melakukan aktivitas seperti biasa dengan protokol kesehatan yang dipersyaratkan. Namun demikian, tentu saja masih ada pelanggaran yang menyebabkan penyebaran virus semakin tidak terkendali.

 

Keberadaan virus baru di tengah-tengah kita yang belum siap dengan permasalahan baru yang bermunculan. Mengakibatkan banyak usaha yang harus gulung tikar, pekerja yang harus kehilangan pekerjaannya, hingga menyebabkan banyak orang mengalami kesulitan ekonomi. Dampak lainnya bahkan bisa meningkatkan kriminalitas. Belum lagi perasaan terancam akan terpapar virus ketika pergi bekerja atau keluar rumah. Sedangkan orang-orang yang harus bersabar di dalam rumah menjalani isolasi dan PSBB dengan  kesendirian tanpa teman berbagi, ataupun yang bersama-sama terlalu lama sehingga rentan berkonflik. Dapat memicu gangguan pada psikis.

 

Tekanan di era industri 4.0 yang memang sudah banyak jadi semakin bertambah. Menjaga kesehatan jiwa pun menjadi sorotan penting selain menjaga kesehatan fisik dari paparan virus kecil ini. Beberapa hal dapat kita lakukan untuk tetap menjaga kesehatan jiwa. Hal yang harus kita lakukan adalah berdamai dengan keadaan. Menolak kenyataan atau bersikap bahwa Covid-19 tidak berbahaya merupakan kesalahan. Mematuhi aturan-aturan yang diterapkan menjadi keharusan bagi kita, terutama yang sudah menjalankan aktivitas di luar rumah dan bertemu banyak orang. Rutin mencuci tangan dan tetap memakai masker seharusnya dijadikan kebiasaan dan gaya hidup baru.

 

Ketika harus menjalani karantina mandiri atau menjalani PSBB, kita tetap dapat menjaga pikiran positif dan melakukan aktivitas-aktivitas bermanfaat. Misalnya, menjalani hobi yang sempat tertunda karena waktu luang yang belum juga tersedia. Selain itu, mengatur ulang rumah, membereskan beberapa hal yang rusak dan perlu diperbaiki dapat menghadirkan perasaan positif karena telah melakukan hal yang bermanfaat. Bermain bersama pun dapat menghadirkan atmosfir positif di rumah bagi setiap anggota keluarga. Selain itu, tidak lupa saling berbagi dapat menjadi booster bagi kesehatan jiwa kita. Dengan membagi kesulitan kita akan terasa lebih ringan, apabila mempunyai kelebihan rezeki kita pun dapat membaginya dengan orang lain. Perasaan diri bermanfaat bagi orang lain juga dapat menjadi peningkat mood yang dapat menjaga kesehatan jiwa. Lebih baik lagi, jika kita mendekatkan diri kepada Tuhan dan menjalani kehidupan dengan prasangka baik bahwa apa yang kita lalui akan menemui akhir yang baik.

Penulis: 
Dwi Ratna Laksitasari, S.Psi
Sumber: 
Dinas Sosial