Yo, Kite Bangun Pariwisata Babel

Kita patut berbangga, Bangka Belitung masuk dalam 5 destinasi prioritas lanjutan yang dicanangkan pada masa Pemerintahan Presiden Jokowi. 

Ini menjadi jawaban bagi Bangka Belitung untuk bertransformasi dari sektor tambang ke sektor pariwisata. Tentu, hal ini menjadi perhatian khususnya bagi pemimpin Bangka Belitung, tidak terkecuali Gubernur Erzaldi, Wakil Gubernur Abdul Fatah juga orang-orang yang pernah memimpin Negeri Serumpun Sebalai ini. 

Saat menghadiri acara dialog yang akan digelar Bangka Pos Grup pada esok hari Jumat (19/11/2021), pemimpin-pemimpin Babel ini akan mengupas rekam jejak Bangka Belitung dalam membangun pariwisata, terlebih Provinsi Bangka Belitung akan memasuki usia 21 tahun pada 21 November 2021 mendatang.

Kita yakin semua pemimpin Babel sangat serius dalam pembangunan pariwisata karena Babel memiliki segalanya selain timah. Apalagi sejak dulu Babel terkenal elok dan menawan. Panorama alamnya sungguh cantik rupawan. Budayanya beragam warna dari berbagai suku dan etnik. Semua ini bisa dijadikan modal dasar dalam mengembangkan pariwisata sebagai alternatif penggerak roda perekonomian pasca tambang.

Pasalnya, lambat laun bahan tambang bakal habis dan tak bisa diperbaharui lagi. 
Apalagi berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov. Babel sebelum masa pandemi Covid-19, minat wisatawan berkunjung ke Negeri Serumpun Sebalai cukup tinggi. Jumlah kunjungan wisatawan ke Babel pada 2018 tercatat sebanyak 2.072.023 orang dengan rincian jumlah wisatawan nusantara sebanyak 2.040.338 orang dan wisatawan mancanegara sebanyak 31.685 orang. Sedangkan jumlah wisatawan  manca negara ke Indonesia tahun 2018 berdasarkan data BPS sebanyak 15,81 juta kunjungan.

Tentu saja jumlah kunjungan wisata ke Babel bisa terus ditingkatkan. Bahkan Babel pernah disebut-sebut  sebagai wisata alternatif selain Pulau Bali. Memang secara geografis Babel lebih strategis ketimbang Bali. Babel berada pada kawasan segitiga emas Singapura, Johor, dan Riau (SIJORI). Juga tak begitu jauh dari Jakarta atau Pulau Jawa. Sehingga sangat logis bila menjadi kawasan wisata, alternatif kawasan bisnis, dan pelabuhan bebas karena Batam maupun Singapura kini sudah mulai “jenuh”

Memang upaya Babel  “menggusur” dominasi Batam dan Singapura sebagai kawasan bisnis atau Bali sebagai kawasan wisata bukan pekerjaan mudah dan terkesan tak masuk akal. Apalagi Bali sudah terkenal ke manca negara sejak tempo dulu. Sedangkan Babel yang baru seumur jagung sebagai provinsi, relatif baru beberapa tahun terakhir ini dikenal luas sebagai surga wisata bahari yang cukup menggoda. Tentu saja ini juga tak terlepas dari novel dan film Laskar Pelangi yang “meledak” sehingga semua mata tertuju pada Babel.

Tapi harus diingat, dengan daratan seluas 1,65 juta hektar Babel tiga kali lipat lebih luas dari Pulau Bali atau 17 kali lebih besar ketimbang negara Singapura. Babel juga banyak memiliki keunggulan pesona wisata. Tak kalah dengan Bali, Babel memiliki pesona keindahan alam, souvenir, dan seni budaya daerah. 

Untuk keindahan alam misalnya, Babel memiliki Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Kelayang dan Pulau Lengkuas di Belitung. Belum lagi destinasi wisata lainnya yang cukup menarik dan sudah mendunia seperti 17 objek wisata Geopark Belitung sebagai geopark dunia. Di Pulau Bangka sendiri ada Pantai Parai Tenggiri, Pantai Tanjung Pesona, Pantai Rambak, Pantai Tongaci,  dan Pantai Penyusuk dengan Pulau Putri. Di Bangka Tengah ada Taman Hutan Pelawan dan danau indah bekas lahan tambang yakni Danau Bukit Pading dan Danau Kaolin.  Begitu pula di Bangka Barat dan Bangka Selatan yang memiliki banyak destinasi wisata menarik.

Kerajinan tangan atau souvenirpun Babel punya. Antara lain kerajinan pewter timah, kopiah resam, akar bahar, batu satam, kain cual, dan banyak lagi yang tak kalah menarik untuk dijadikan kenang-kenangan atau oleh-oleh bagi para pelancong.
Sedangkan untuk seni budaya daerah Babel juga sangat kaya. Babel punya tari taber, tradisi buang jong, musik dambus yang memancing orang menari, perang ketupat yang unik, dan budaya nganggung yang sarat makna dan masih banyak lagi seni budaya lainnya yang tak akan terlupakan seumur hidup di benak para pelancong.

Untuk pecinta sejarah, Babel punya museum timah seperti di Pangkalpinang dan Mentok yang dikelola PT Timah Tbk. Ada juga  pusat kerajinan timah atau pewter. Di pusat kerajinan timah itu para pelancong sekaligus dapat mencari souvenir berbahan utama dari timah dan punya ciri  khas tersendiri. Semisal kerajinan kapal layar dan kereta sorong eksklusif yang terbuat dari timah.

Nilai jual lainnya adalah objek wisata sejarah yang berhubungan dengan tokoh pendiri bangsa Bung Karno dan pahlawan RI lainnya, yakni tempat pembuangan mereka saat berada di Pulau Bangka. Objek itu antara lain Wisma Ranggam dan Pesanggrahan Bukit Menumbing di Mentok Bangka Barat.

Agar semua ini tak hanya menjadi wacana atau mimpi semata, maka ada beberapa langkah atau strategi yang harus dilakukan. Dimulai dengan mengubah sikap mental dan paradigma berpikir masyarakat yang apatis menjadi pro aktif mendukung pengembangan wisata di Babel. Juga sinergi semua pihak khususnya pelaku usaha wisata, masyarakat, dan pemerintah daerah.

Kemudian yang tak kalah pentingnya meningkatkan kualitas SDM terutama yang berhubungan langsung dengan dunia pariwisata. Semisal SDM yang ada di institusi pemerintah daerah maupun swasta. Juga SDM yang terlibat secara langsung seperti supir, karyawan _travel_, hotel, dan pemandu wisata.

Khusus pelaku wisata dengan didukung pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota sudah saatnya meningkatkan atau memperbaiki fasilitas yang berhubungan dengan objek wisata. Antara lain sarana jalan, keamanan, kebersihan, pusat informasi wisata yang harus berfungsi optimal di bandara maupun fasilitas publik lainnya serta  pengembangan fasilitas lainnya yang membuat nyaman dan betah para wisatawan.

Juga yang tak kalah pentingnya perlu memberikan kemudahan bagi _investor_ bidang pariwisata dan menciptakan iklim yang kondusif di Babel. Kemudahan ini antara lain dari segi informasi, perizinan, dan administrasi yang tidak berbelit-belit.

Menyangkut soal informasi dan promosi tentu di era sekarang hal itu mutlak dilakukan secara masif dan efektif. Promosi ini harus melibatkan semua kalangan dengan berbagai wadah/saluran informasi, termasuk melalui ajang pameran skala nasional maupun internasional, melalui media cetak, media elektronik, media online, media sosial, dan media luar ruangan seperti videotron di berbagai lokasi strategis di luar Babel. Semua promosi mengenai pariwisata Babel ini tak boleh dilakukan secara sporadis namun harus direncanakan sekaligus dilaksanakan secara optimal, terkoordinasi, berkesinambungan, dan terukur.

Agar daya tarik wisata Babel semakin menggeliat, maka perlu juga menghidupkan sanggar-sanggar seni budaya yang ada. Sehingga diharapkan sanggar budaya ini tetap hidup dan sewaktu-waktu dapat tampil memukau di hadapan wisatawan. Untuk itu perlu pula digalakkan lomba atau festival seni budaya untuk memancing agar seniman/budayawan lokal tetap bergairah melahirkan karya-karya terbaik mereka. 
Tentunya masih banyak strategi dan terobosan penting lainnya yang harus dilakukan semua kalangan agar pariwisata Babel menggeliat. Babel pun suatu saat bisa seperti Bali jika semua pihak sungguh-sungguh. Makanya, Yo kite bangun pariwisata Babel. (*)

Penulis: 
Irwanto
Sumber: 
Pranata Humas Prov. Babel
Kanal Konten: 

Artikel

18/11/2021 | Pranata Humas Prov. Babel
16/10/2021 | Abdul Syukur, ST
26/04/2021 | Pranata Humas Pemprov Babel dan Mantan Ketua Tim Advokasi Hukum PWI Babel
03/02/2021 | Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
24/04/2015 | Surianto S.Sos
28,289 kali dilihat
24/04/2015 | Surianto S.Sos
19,504 kali dilihat
13/03/2020 | Imelda Ginting
14,872 kali dilihat
24/04/2015 | Surianto S.Sos
9,529 kali dilihat