Mendulang Berkah, Mengembalikan Marwah Kelapa

Penulis : Refa Riskiana (DLHK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)

Kelangkaan minyak goreng tengah menjadi berita hangat saat ini. Ketergantungan masyarakat terhadap makanan yang diolah dengan cara digoreng menjadikan minyak goreng sebagai salah satu bahan pokok yang krusial dalam kehidupan sehari-hari. Maka tak heran, kelangkaan minyak goreng yang terjadi saat ini mulai memicu keresahan masyarakat, baik ibu rumah tangga terlebih bagi pengusaha produk makanan. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sendiri terkenal luas dengan produk makanan ringan olahan ikan seperti kerupuk, kricu, kretek atau getas dan lain-lain. Produk tersebut merupakan buah tangan khas dari Kepulauan Bangka Belitung yang telah terkenal luas ke berbagai penjuru Indonesia. Jenis-jenis makanan ringan tersebut sebagian besar juga diolah dengan cara digoreng, hingga mendapatkan cita rasa lezat dan tekstur renyah yang disukai banyak orang. Jelas sudah bagaimana masyarakat kita sangat tergantung pada minyak goreng.

Peningkatan harga CPO (crude palm oil) yang merupakan bahan baku minyak goreng, gangguan distribusi hingga aksi penimbunan minyak goreng yang dilakukan oleh oknum, dituding sebagai penyebab hilangnya minyak goreng di pasaran. Sebaliknya, berbagai usaha juga dilakukan untuk mengatasi persoalan ini. Namun ada baiknya kita melihat kelangkaan minyak goreng ini dari sisi yang berbeda.

Minyak goreng memang telah digunakan sejak lama oleh masyarakat dalam proses memasak. Tapi makanan dan proses memasak yang termasuk sebagai kebudayaan sangat erat kaitannya dengan lingkungan hidup dan sumber daya alam masyarakat setempat. Dahulu kala, sebelum minyak kelapa sawit menjadi primadona bahan baku minyak goreng, nenek moyang kita memanfaatkan sumber daya alam lainnya sebagai sumber minyak. Masyarakat yang memiliki hewan ternak sapi, babi atau kerbau memanfaatkan lemak hewani tersebut dan mengolahnya menjadi minyak goreng. Sedangkan masyarakat pesisir yang banyak menjumpai kelapa mengolah kopra menjadi minyak goreng. Bahkan pada masanya, kopra dan minyak kelapa merupakan produk perkebunan unggulan sumber ekonomi masyarakat.

Pohon kelapa yang dikenal sebagai pohon kehidupan  karena setiap bagian pohon tersebut memberikan manfaat bagi manusia. Bangka Belitung sebagai provinsi kepulauan memiliki garis pantai yang panjang dikaruniai pula dengan pohon kelapa yang tersebar di berbagai tempat, termasuk pula di sekitar garis pantai kita. Pohon kelapa yang menghasilkan kelapa segar dinikmati sebagai kelapa muda, juga memberikan salah satu solusi kelangkaan minyak goreng.

Adalah masyarakat Desa Jelitik, salah satu kelompok masyarakat yang melihat peluang ini. Pohon kelapa yang banyak dijumpai di Desa Jelitik, dan isu minyak goreng yang terus menghilang dari pasaran serta harga minyak goreng yang melambung memantik kreativitas masyarakat setempat. Kelapa tua yang biasanya kurang diminati mulai dikumpulkan warga. Tahap demi tahap pun dilakukan, dari mulai mengupas kelapa, memarut daging kelapa, dan memeras kelapa hingga mendapatkan santan kelapa asli. Santan tersebut kemudian dipanaskan hingga menghasilkan minyak kelapa yang siap dikemas dan digunakan sebagai minyak goreng. Semua proses ini dilakukan dengan peralatan sederhana yang dapat kita jumpai sehari-hari. Bahan bakar untuk memaskan santan dan menghasilkan minyak pun menggunakan kayu bakar dan batok kelapa yang juga banyak dijumpai di Desa Jelitik tempat tinggal mereka. 

Minyak goreng berbahan baku kelapa ini tentu saja tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat setempat saja, tapi juga mulai diproduksi untuk dipasarkan di skala yang lebih luas. Masyarakat dengan dukungan Pemerintah Desa Jelitik mulai memperkenalkan minyak goreng kelapa dengan brand Minyak Kelapa Mempesona, dan membandrol minyak produksi PKK Desa Jelitik dengan harga yang terjangkau berkisar 30 ribu rupiah per botol kemasan satu liter. Meskipun dari sisi kesehatan, penggunaan minyak kelapa sawit dan minyak kelapa sebagai minyak goreng memiliki kelebihan masing-masing, namun minyak kelapa juga dapat digunakan sebagai produk perawatan rambut dan kulit. Sebagaimana kearifan lokal yang diturunkan dari nenek moyang kita dahulu.

Kreativitas kelompok PKK Desa Jelitik ini patut kita acungi jempol. Selain mengolah daging kelapa menjadi minyak goreng, sabut kelapa yang dihasilkan pun mereka olah menjadi sikat sabut dan juga cocopeat yang bernilai ekonomi. Desa Jelitik yang sedang dipersiapkan sebagai salah satu lokasi Program Kampung Iklim (Proklim) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mampu memberikan solusi terhadap isu hangat yang menerpa masyarakat. Pembuatan minyak kelapa ini dapat menjadi berkah bagi warga sekaligus mengembalikan marwah kelapa sebagai pohon kehidupan (RF).